DAKWAH APOLOGET ISLAM

AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR

Tampilkan postingan dengan label SYUBHAT. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SYUBHAT. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Maret 2025

MATI SURI

Mati suri merupakan kondisi manusia yang dikira sudah mati, tetapi sejatinya belum. Kondisi ini dalam dunia medis disebut dengan istilah Near Death Experience (NDE).Mati suri menurut Islam secara eksplisit memang tidak dibahas, termasuk ayat Alquran yang menjelaskan tentang mati suri. Hanya saja, ayat Alquran yang merupakan kitab suci universal bisa digali makna-maknanya untuk kemudian ditafsirkan oleh para mufasir.

AL-QUR'ANUL KARIM SURAT AZ-ZUMAR (39) AYAT  42

اِنَّآ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ لِلنَّاسِ بِالْحَقِّۚ فَمَنِ اهْتَدٰى فَلِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ ضَلَّ فَاِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا ۚوَمَآ اَنْتَ عَلَيْهِمْ بِوَكِيْلٍ

Sungguh, Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dengan membawa kebenaran untuk manusia; barangsiapa mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa sesat maka sesungguhnya kesesatan itu untuk dirinya sendiri, dan engkau bukanlah orang yang bertanggung jawab terhadap mereka.

اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَنْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَالَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَامِهَا ۚ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْاُخْرٰىٓ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّىۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.

AL-QUR'ANUL KARIM SURAT ALI 'IMRON (3) AYAT  185

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَاِنَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.1`


Minggu, 16 Maret 2025

JIN QORIN



Seseorang yang imannya kuat, kokoh dan terus teguh dalam Islam, maka akan sukar diganggu setan.
Sebagaimana yang terjadi pada ‘Umar bin Khottob. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkata pada ‘Umar bin Khottob,
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَخَافُ مِنْكَ يَا عُمَرُ إِنِّى كُنْتُ جَالِسًا وَهِىَ تَضْرِبُ فَدَخَلَ أَبُو بَكْرٍ وَهِىَ تَضْرِبُ ثُمَّ دَخَلَ عَلِىٌّ وَهِىَ تَضْرِبُ ثُمَّ دَخَلَ عُثْمَانُ وَهِىَ تَضْرِبُ فَلَمَّا دَخَلْتَ أَنْتَ يَا عُمَرُ أَلْقَتِ الدُّفَّ
“Sesungguhnya setan benar-benar takut padamu wahai Umar. Tatkala aku duduk budak wanita itu memukul rebana, lalu masuk Abu Bakar, ‘Ali dan Utsman, dia masih memukul rebana, tatkala dirimu yang datang budak wanita itu melemparkan rebananya.” (HR. Tirmidzi no. 3690. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
إِنِّى لأَنْظُرُ إِلَى شَيَاطِينِ الإِنْسِ وَالْجِنِّ قَدْ فَرُّوا مِنْ عُمَرَ
“Sungguh aku melihat setan dari kalangan manusia dan jin lari dari ‘Umar.” (HR. Tirmidzi no. 3691. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).
Juga beliau berkata pada ‘Umar,
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ قَطُّ سَالِكًا فَجًّا إِلاَّ سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ
“Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, setan tidaklah menemuimu sama sekali ketika engkau melewati suatu jalan melainkan setan kala itu mencari jalan lain selain jalanmu.” (HR. Bukhari no. 3294).
Namun hal seperti di atas bukan hanya berlaku pada ‘Umar bin Khottob. Setiap orang yang kuat imannya, maka setan akan kerdil di hadapannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits,
إن المؤمن ينضي شيطانه كما ينضي أحدكم بعيره في السفر
“Sesungguhnya orang mukmin akan menundukkan setannya sebagaimana salah satu dari kalian menundukkan untanya ketika safar” (HR. Ahmad, Al Hakim, Ibnu Abid Dunya dalam Makayidisy Syaithon, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mendhoifkan hadits ini).
Jin qorin yang biasa menyertai manusia pun bisa tunduk, bahkan masuk Islam. Lihat hadits berikut.
Dari ‘Abdullah bin Mas’ud ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ ». قَالُوا وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « وَإِيَّاىَ إِلاَّ أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِى عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلاَ يَأْمُرُنِى إِلاَّ بِخَيْرٍ »
“Setiap orang akan ditemani oleh qorinnya dari jin.” Para sahabat bertanya, “Termasuk engkau juga, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Iya termasuk aku. Namun Allah telah membuat qorin tersebut untuk tunduk padakku, ia masuk Islam dan hanya memerintahkanku pada kebaikan.” (HR. Muslim no. 2814).

Referensi:

‘Alamul Jin wasy Syaithon, Syaikh Prof. Dr. ‘Umar bin Sulaiman bin ‘Abdullah Al Asyqor, terbitan Darun Nafais, cetakan kelimabelas, tahun 1423 H.

Jin ternyata bergolong-golongan dan terpecah sebagaimana pada manusia. Ada di kalangan jin yang muslim, Yahudi dan Nashrani. Ada di kalangan mereka yang mukmin dan kafir. Ada di kalangan mereka juga Rafidhah (baca: Syi’ah).
Syaikh Umar Al Asyqor berkata, “Di antara jin itu ada yang istiqamah dan gemar melakukan amalan kebajikan dan ada yang tidak seperti itu. Ada yang tidak taat dan di antara mereka ada yang kafir. Yang kafir itulah yang lebih banyak.” (‘Alamul Jin wasy Syaithon, hal. 67)
Sebagaimana manusia, ada yang keshalihannya bertingkat-tingkat, kalangan jin juga demikian. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنَّا مِنَّا الصَّالِحُونَ وَمِنَّا دُونَ ذَلِكَ كُنَّا طَرَائِقَ قِدَدًا
“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS. Al Jin: 11).
Yang dimaksud di sini adalah ada di antara jin yang shalih, ada juga yang fasik, fajir (gemar melakukan dosa besar), ada pula yang kafir. Para jin itu ada beberapa golongan. Setiap golongan selalu bangga dengan golongan mereka masing-masing. Demikian kata Syaikh As Sa’di dalam Taisirul Karimir Rahman, hal. 891.
Sayyid bin Al Musayyib mengatakan bahwa jin itu ada yang muslim, ada yang Yahudi, ada yang Nashrani dan ada yang Majusi. Lihat Fathul Qadir karya Asy Syaukani, 5: 406
Dalam Zaadul Masiir (8: 380) dan Fathul Qadir (5: 406), disebutkan perkataan Al Hasan Al Bashri dan As Sudi, mereka menuturkan bahwa jin itu semisal kalian. Ada yang memiliki pemahaman Qadariyah, Murji’ah dan Rafidhah (baca: Syi’ah).
Balasan bagi jin yang beriman dan kafir disebutkan dalam ayat,
وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا (14) وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا (15)
“Dan sesungguhnya di antara kami ada yang taat dan ada (pula) yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.” (QS. Al Jin: 14-15).
Dalam ayat di atas diterangkan mengenai balasan bagi setiap golongan jin. Bagi yang menempuh jalan yang lurus akan mendapat balasan surga dan kenikmatan dalam surga. Sedangkan, bagi golongan yang menyimpang dari shirotol mustaqim (dari jalan yang lurus) akan menjadi kayu api bagi neraka Jahannam. Itulah balasan yang pantas untuk mereka, bukan sama sekali Allah bertindak zhalim. Lihat Taisirul Karimir Rahman, hal. 891.
Dalam Tafsir Al Jalalain (hal. 584), disebutkan bahwa yang dimaksud hathoba adalah sebagai wuqud, yaitu sesuatu yang digunakan untuk menyalakan api.

Referensi:

‘Alamul Jin wasy Syaithon, Syaikh Prof. Dr. ‘Umar bin Sulaiman bin ‘Abdullah Al Asyqor, terbitan Darun Nafais, cetakan kelimabelas, tahun 1423 H.

Fathul Qadir, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, terbitan Darul Wafa’ dan Dar Ibnu Hazm, cetakan ketiga, tahun 1426 H.

Tafsir Al Jalalain, Jalaluddin As Suyuthi dan Jalaluddin Al Mahalli, terbitan Darus Salam, cetakan kedua, tahun 1422 H.

Zaadul Masiir fii ‘Ilmit Tafsiir, Ibnul Jauzi, terbitan Al Maktab Al Islami, cetakan ketiga, tahun 1404 H.

Sabtu, 15 Maret 2025

KEBERADAAN NABI MUHAMMAD SAW

 AL-QUR'ANUL KARIM SURAT A'ALI 'IMRON AYAT 169

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًا ۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَۙ

Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki,

Sabtu, 01 Maret 2025

MENJAWAB SYUBHAT SURAT AL-MA'ARIJ AYAT 40

KEADAAN ORANG-ORANG KAFIR YANG MENDUSTAKAN RASULULLAH SAW. DI DUNIA DAN AKHIRAT

فَمَالِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا قِبَلَكَ مُهْطِعِيْنَۙ

Maka mengapa orang-orang kafir itu datang bergegas ke hadapanmu (Muhammad), 36

عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِيْنَ

dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok? 37

اَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ اَنْ يُّدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيْمٍۙ

Apakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk surga yang penuh kenikmatan? 38

كَلَّاۗ اِنَّا خَلَقْنٰهُمْ مِّمَّا يَعْلَمُوْنَ

Tidak mungkin! Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui. 39

فَلَآ اُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغٰرِبِ اِنَّا لَقٰدِرُوْنَۙ

Maka Aku bersumpah demi Tuhan yang mengatur tempat-tempat terbit dan terbenamnya (matahari, bulan dan bintang), sungguh, Kami pasti mampu, 40

عَلٰٓى اَنْ نُّبَدِّلَ خَيْرًا مِّنْهُمْۙ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوْقِيْنَ

untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka, dan Kami tidak dapat dikalahkan. 41

فَذَرْهُمْ يَخُوْضُوْا وَيَلْعَبُوْا حَتّٰى يُلٰقُوْا يَوْمَهُمُ الَّذِيْ يُوْعَدُوْنَۙ

Maka biarkanlah mereka tenggelam dan bermain-main (dalam kesesatan) sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka, 42

يَوْمَ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَجْدَاثِ سِرَاعًا كَاَنَّهُمْ اِلٰى نُصُبٍ يُّوْفِضُوْنَۙ

(yaitu) pada hari ketika mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia), 43

خَاشِعَةً اَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۗذٰلِكَ الْيَوْمُ الَّذِيْ كَانُوْا يُوْعَدُوْنَ

pandangan mereka tertunduk ke bawah diliputi kehinaan. Itulah hari yang diancamkan kepada mereka. 44

Sebab Turunnya Ayat (38)

Sebab turun ayat اَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ اَنْ يُّدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيْمٍۙ para mufassir berkata, "Orang-orang musyrik berkumpul di sekitar Nabi, mendengarkan ucapan beliau, tetapi mereka tidak bisa mengambil manfaatnya. Mereka justru mendustainya, mengejeknya dan berkata, "fika mereka masuk ke surga, Kami akan masuk ke surga sebelum mereka. Bagian kami di surga adalah lebih banyak daripada mereka",lalu Allah menurunkan ayat اَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ اَنْ يُّدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيْمٍۙ ini adalah bacaari jumhur ulama.

Tafsir dan Penjelasan

فَمَالِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا قِبَلَكَ مُهْطِعِيْنَۙ

Maka mengapa orang-orang kafir itu datang bergegas ke hadapanmu (Muhammad), 36

عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِيْنَ

dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok? 37

Bagaimana mereka, orang-orang kafir itu di sekelilingmu, wahai Nabi, mengapa mereka bergegas menuju kekufuran, pendustaan dan mengejekmu? Mereka, di samping kanan dan di samping kiri Nabi berkelompok-kelompok, terpecah-pecah, berlari dari Nabi, memisahkan diri darinya. Sebagaimana firman Allah SWT,

فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِيْنَۙ

Lalu mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? 49

كَاَنَّهُمْ حُمُرٌ مُّسْتَنْفِرَةٌۙ

seakan-akan mereka keledai liar yang lari terkejut, 50

فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍۗ

lari dari singa. 51

Ada yang mengatakan مُهْطِعِيْنَۙ adalah memanjangkan leher mereka, lama melihatmu. Kemudian, Allah menghina dengan keras atas keinginan mereka terhadap surga, membuat mereka putus asa masuk surga, Allah SWT berfirman,

اَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ اَنْ يُّدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيْمٍۙ

Apakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk surga yang penuh kenikmatan? 38

Apakah mereka -orang-orang musyriksementara keadaan mereka mengufuri, mendustakan, dan lari dari Rasulullah serta menjauh dari kebenaran, berharap masuk surga (yang penuh) kenikmatan? Tidah justru tempat tinggal mereka adalah neraka Jahannam, sebagaimana firman Allah SWT

كَلَّاۗ اِنَّا خَلَقْنٰهُمْ مِّمَّا يَعْلَمُوْنَ

Tidak mungkin! Sesungguhnya Kami menciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui. 39

Sekali-kali tidak, tidakada harapan mereka masuk surga. Kami menciptakan mereka dari air mani yang lemah, sebagaimana firman Allah, al-Mursalaat: 20

اَلَمْ نَخْلُقْكُّمْ مِّنْ مَّاۤءٍ مَّهِيْنٍۙ

Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina (mani),

Ini adalah ketetapan terjadinya hari Kiamat dan adzab terhadap mereka yang mengingkari kejadiannya dan menganggap aneh keberadaannya dengan dalil adanya penciptaan peftama atau permulaan yang mereka kenal. Pengulangan dalam menciptakan manusia adalah lebih mudah daripada awal membuatnya. Adapun kaiannya dengan Allah Sffi penciptaan pertama kali dan pengulangan penciptaan adalah sama. Karena mereka diciptakan dari sesuatu yang lemah, mereka adalah lemah dan tidak semestinya takabur.

"Ahmad,Ibnu Majah dan lbnu Sa'ad meriwayatkanbahwa Rasulullah saw. membaca ayat فَمَالِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا قِبَلَكَ مُهْطِعِيْنَۙsampai كَلَّاۗ اِنَّا خَلَقْنٰهُمْ مِّمَّا يَعْلَمُوْنَ kemudian b eliau meludah di tehp ak tanganny a dan meletakkannya pada jari jemarinya dan bersabda, "Allah SWI berfirman, "Wahai anak Adam, bagaimana lamu bisa mengahhkanku, sementara Aku menciptakantnu dari barang seperti ini?, sampai ketika Aku meny empurnakan p enciptaanrnu, melurusl<anmu, lalu lamu berjalan di antara dua pos, bumi bagimu kokoh dipijah kamu mengumpulkan har ta, menahan untuk meny edelahlanny a. S amp ai ketilca nyawa di kerongkongan kamu katakan, 'Aku alan bersedelcah", bagaimana waktu sedekah selarangini?"
Kemudian, Allah mengingatkan mereka dengan kebinasaan jika mereka selalu dalam kekufuran, mengancam mereka untuk menciptakan makhluk lain sebagai ganti mereka supaya mereka beriman, Allah SWT berfirman,
فَلَآ اُقْسِمُ بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغٰرِبِ اِنَّا لَقٰدِرُوْنَۙ

Maka Aku bersumpah demi Tuhan yang mengatur tempat-tempat terbit dan terbenamnya (matahari, bulan dan bintang), sungguh, Kami pasti mampu, 40

عَلٰٓى اَنْ نُّبَدِّلَ خَيْرًا مِّنْهُمْۙ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوْقِيْنَ

untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka, dan Kami tidak dapat dikalahkan. 41

Aku bersumpah dengan tempat terbit matahari, bulan, dan planet-planet juga tempat tenggelamnya di setiap hari dari hari-hari dalam setahun, bahwa Kami akan menciptakan makhluk yang lebih baik daripada mereka, lebih taat kepada Allah daripada orang yang sezaman mereka. Kami binasakan mereka dan tidak ada yang mengalahkan Kami. Kami tidak bisa dikalahkan iika Kami menghendaki hal itu. Kami melakukan apa yang Kami inginkan, tetapi keinginan dan kebijaksanaan Kami menghendaki Kami menangguhkan penyiksaan mereka. 

Ini dalil mengenai kesempurnaan kekuasaan Allah untuk mencipakan dan meniadakan dengan ditegaskan dengan sumpah dan bahwasanya tidak ada sesuatu pun dari yang mungkin, mampu mengalahkannya. Ini adalah penghinaan )xang keras pada mereka, peringatan atas kontradil<si ucapan mereka. Di mana mereka mengingkari kebangkian, kemudian berharap masuk surga. Mereka mengakui bahwa Allah Pencipta langit dan bumi dan menciptakan mereka dari barang yang mereka ketahui, kemudian mereka tidak mengimani bahwa Allah berkuasa menciptakan mereka lagi.

Kdmudian, Allah memerintahkan rasulNya agar berpaling dari mereka sampai hari kebangkitan sebagai penambah ancaman itu. Allah berfirman,

فَذَرْهُمْ يَخُوْضُوْا وَيَلْعَبُوْا حَتّٰى يُلٰقُوْا يَوْمَهُمُ الَّذِيْ يُوْعَدُوْنَۙ

Maka biarkanlah mereka tenggelam dan bermain-main (dalam kesesatan) sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka, 42

biarkanlah mereka berbicara dalam kebatilan mereka, bermain-main di dunia merek4 membangkang dan mendustakan, mengufu ri dan mengingkari hari kebangkitan, sampai mereka menjumpai hari Kiamat dan kegentingan-kegentingan yang ada di dalamnya. Lalu, mereka mencicipi akibat kehancurannya. Mereka dibalas sesuai dengan apa,rang mereka kerjakan.

Di antara keadaan-keadaan mereka pada hari ini adalah,

يَوْمَ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَجْدَاثِ سِرَاعًا كَاَنَّهُمْ اِلٰى نُصُبٍ يُّوْفِضُوْنَۙ

(yaitu) pada hari ketika mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia), 43

Ingatlah hari di mana mereka bangkit dari kubur karena seruan Tuhan Yang Maha Esa untuk menuju ke tempat hisab, sembari bergegas, berebutan, seperti mereka -dalam bergegas ke tempat itu- di dunia berlarilari atau bersegera menuju ke sesuatu yang ditancapkan, bendera atau panji. Yang dimaksud dengan nushub adalah segala sesuatu yang ditancapkan, lalu disembah sebagai sembahan selain Allah. Firman-Nya ) يُّوْفِضُوْنَۙ artinya bergegas dan berlomba-lomba menuju ke situ.

خَاشِعَةً اَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۗذٰلِكَ الْيَوْمُ الَّذِيْ كَانُوْا يُوْعَدُوْنَ

pandangan mereka tertunduk ke bawah diliputi kehinaan. Itulah hari yang diancamkan kepada mereka. 44

Pandangan-pandangan mereka hina dan hancur. Mereka ditutupi oleh kehinaan yang dahsyat karena kegentingan siksa yang menghadang mereka sebagai imbalan kesombongan mereka untuk taat di dunia. Itu adalah hari yang mencakup kegentingankegentingan yang besax, yaitu hari yang mana mereka diancam oleh Allah, diperingkatkan dengan keras. Mereka akan menemuinya. Mereka selalu mendustakannya. Seandainya mereka mengimaninya, mereka akan selamat dari siksa.

Hari Kiamat itu diungkapkan dengan bentuk madhi (masa lampau) karena apa yang dijanjikan oleh Allah akan datang dengan pasti.

Mufradaat Lu€hawffiah

قِبَلَكَ sekitarmu, arahmu. مُهْطِعِيْنَۙ bersegera, memandang lama sekali ke arahmu. عِزِيْنَ adalah kelompok-kelompok yang tersebar-seba[ berkelompok, jamak dari kata (عزة). Asalnya adalah (عزوة) dari kata العزو. Seakan-akan setiap kelompok merasa agung dan berafiliasi pada selain kelompok yang dibanggakan oleh yang lain. Kelompok itu mandiri dengan pendapat sendiri. Kata عِزِيْنَ adalah termasuk kata manqusft (huruf ketiganya/lam f il dibuang) yang boleh dijamakkan dengan wawu dan nun sebagai ganti dari kata yang dibuang, seperti kata عضين.

اَنْ يُّدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيْمٍۙ sebagai bentuk pengingkaian pada ucapan mereka, "Kalau apa yang diucapkan oleh Muhammad benax, kami di surga pasti lebih utama daripada mereka sebagaimana keadaan di dunia." Kata كَلَّاۗ adalah sanggahan keras kepada mereka karena tamak pada surga.اِنَّا خَلَقْنٰهُمْ مِّمَّا يَعْلَمُوْنَ Kami menciptakan mereka dan orang-orang selain mereka dari tetesan air mani yang hina. Barangsiapa yang tidak menyempurnakan dirinya dengan iman dan ketaatan, tidak berakhlak dengan akhlak para malaikat, dia tidak berhak masuk surga.

فَلَآ اُقْسِمُ Aku bersumpah, sedang (لَآ) adalah zaidah (tambahan). بِرَبِّ الْمَشَارِقِ وَالْمَغٰرِبِ matahari, bulan dan semua planet-planet, عَلٰٓى اَنْ نُّبَدِّلَ خَيْرًا مِّنْهُمْۙ Kami membinasakan mereka lalu mendatangkan dengan makhluk yang lebih baik daripada mereka, atau Kami mendatangkan pengganti mereka. بِمَسْبُوْقِيْنَ lemah atau kalah. (فذرهم) tinggalkanlah mereka.

يَخُوْضُوْا mereka berbicara mengenai kebatilan mereka. وَيَلْعَبُوْا bermain-main di dunia mereka. حَتّٰى يُلٰقُوْا sampai mereka menjumpai. الَّذِيْ كَانُوْا يُوْعَدُوْنَ. apa yang mereka dijanjikan pada hari itu, yaitu siksa.

الْاَجْدَاثِ adalah kuburan-kuburan, jamak dari سراعا. جدث Bergegas ke padang mahsan jamak dari kata سريع. fata نُصُبٍ adalah jamak dari نصب. انصاب adalah segala sesuatu yang ditancapkan. Seperti bendera atau panji. Yang dimalsud di sini adalah apa yang ditancapkan untuk disembah. يُّوْفِضُوْنَۙ mereka bergegas. خَاشِعَةً hina, hancur. تَرْهَقُهُمْ mereka ditutupi. ذٰلِكَ الْيَوْمُ hari Kiamat. 

Balaaghah

Kalimat اَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ aaatah istifhaam inkaari fbentuk peranyaan pengingkaran), untuk mencaci dan menghina dengan menyakitkan.  

كَلَّاۗ اِنَّا خَلَقْنٰهُمْ مِّمَّا يَعْلَمُوْنَ adalah kinayah d,ari air mani, dengan pengungkapan yang bersih dan peringatan yang bagus.

كَاَنَّهُمْ اِلٰى نُصُبٍ يُّوْفِضُوْنَۙ tarybih mursal muimal. Dalam tarybih ini ada pengejekan kepada mereka, sindirian kerendahan akal mereka dan pembodohan terhadap mereka karena beribadah kepada selain Allah.

Qlraa'aat 

نُصُبٍ Hafsh dan Ibnu Amir membaca نُصُبٍ sedang ulama lain membaca نَصْبٍ.

l'raab

فَمَالِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا قِبَلَكَ مُهْطِعِيْنَۙ عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ عِزِيْنَ. Kata مَا dalah posisi rafa' sebagai mubtada'. Khabarnya kata الَّذِيْنَ sedang kata كَفَرُوْا adalah shilah dari الَّذِيْنَ. Kata قِبَلَكَ adalah zharafmakaan, dalam posisi sebagai haal dari dhamir yang ada pada كَفَرُوْا atau dari rsim yang diTarkan.الَّذِيْنَ artinya orang-orang yang menuju ke arahmu. مُهْطِعِيْنَۙ adalah haalsetelah haal. Kata عِزِيْنَ adalah haal dari dhamir yang ada pada مُهْطِعِيْنَۙ atau pada kata الَّذِيْنَ.  
Kalimat عَنِ الْيَمِيْنِ وَعَنِ الشِّمَالِ termasuks/rrlah dari kata عِزِيْنَ. Kata عِزِيْنَ adalah bentuk jamak dari عزة. Aslinya adalah عزوة atau عزهة seperti سنة kemudian lamnya (huruf ketiga) dibuang dibuat dalam bentuk jamak dengan wawu dan nun sebagai ganti dari kata yang
dibuang seperti سنون.
 اِنَّا لَقٰدِرُوْنَۙ عَلٰٓى اَنْ نُّبَدِّلَ خَيْرًا مِّنْهُمْۙ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوْقِيْنَkata عَلٰٓى dalam posisi nashab, berta' alluq dengan kata قٰدِرُوْنَۙ. Kalimat ونُّبَدِّلَ خَيْرًا مِّنْهُمْۙ, Taqdirnya نُّبَدِّلَ خَيْرً مِّنْهُمْۙ (Kami akan mengganti mereka dengan yang lebih baik dari mereka). Maf'ul yang pertama dibuang, iuga huruf jar pada maf'ul yang kedua.
يَوْمَ يَخْرُجُوْنَ مِنَ الْاَجْدَاثِ سِرَاعًا<aa يَوْمَ aa"Un badal dari firman-ltya يَوْمَهُمْۙ pada firmanNya: حَتّٰى يُلٰقُوْا يَوْمَهُمُ Artinya sampai mereka menjumpai hari di mana mereka dikeluarkan. Kata سِرَاعًا adalah haal dari wawu pada يَخْرُجُوْنَ.
Demikian juga firman-Nya كَاَنَّهُمْ اِلٰى نُصُبٍ يُّوْفِضُوْنَۙ. adalah haal dari dhamir يَخْرُجُوْنَ Kalimat خَاشِعَةً اَبْصَارُهُمْ adalah haal dari wawu pada kata يُّوْفِضُوْنَۙ demikian juga kalimat تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ 
ذٰلِكَ الْيَوْمُ الَّذِيْ كَانُوْا يُوْعَدُوْنَ Ta q d i rny aa dal a h ذٰلِكَ الْيَوْمُ الَّذِيْ كَانُوْا يُوْعَدُوْنَهُ. Maf'ul yang kembali pada isim maushul الَّذِيْ dibuang demi meringankan, sebagaimana firman-Nya وَاِذَا رَاَوْكَ اِنْ يَّتَّخِذُوْنَكَ اِلَّا هُزُوًاۗ اَهٰذَا الَّذِيْ بَعَثَ اللّٰهُ رَسُوْلًا"Inikah orang yang diutus oleh Allah sebagai rasul?" (al-Furqan: 41) Artinya بَعَثَهُ. Kata ذٰلِكَ adalah mubtuda'sedang kata sesudahnya adalah khabar.
Flqlh Kehldupan atau Hukum-Hukum

Ayat-ayat di atas menunjukkan hal-hal sebagai berikut

1. AllahSWTmengingkariorang-orangkafir di sekitar Nabi karena mereka bergegas menuju kekafiran dan mendustakan risalah Nabi serta mengejeknya. Bagaimana mereka bergegas menuju Nabi dan duduk di sekitarnya sementara mereka tidak mengamalkan perintahperintahnya? Mereka tampak di sisi kanan dan sisi kiri Nabi berkelompokkelompok, bergerombol terpencar. 

2. Kemudian Allah mengingkari mereka karena kontradiksi ucapan dan sikap mereka. Mereka mendustakan risalah Nabi saw., menghina para sahabatnya, mengingkari hari kebangkitan, kemudian berkata, "fika mereka masuk surga, kita akan masuk ke surga itu sebelum mereka. fika mereka diberi satu bagian dari surga, kita akan diberikan yang lebih banyak," Lalu Allah membalas mereka dengan firman-Nya, 

اَيَطْمَعُ كُلُّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ اَنْ يُّدْخَلَ جَنَّةَ نَعِيْمٍۙ

Apakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk surga yang penuh kenikmatan? 38

Mereka mengingkari hari kebangkitan. Bagaimana mereka menginginkan masuk surga? 

3. Allah membuat mereka putus asa untuk masuk surga. Dia mengabarkan bahwa mereka tidak akan masuk ke dalamnya karena kesombongan mereka. Mereka mengetahui bahwa mereka diciptakan dari setetes air mani kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging sebagaimana Dia menciptakan jenis mereka yang lain. Mereka tidak pantas untuk sombong. Mereka tidak mempunyai keutamaan yang menyebabkan mereka berhak masuk surga. Surga bisa diraih dengan keimanan, amal saleh, dan rahmatAllah. Diriwayatkan bahwa Mutharraf bin Abdullah bin asy-Syakhir melihat AlMahlab bin Abi Shafrah bersikap sombong dengan memakai selendang dari sutra dan jubah dari sutra. Lalu Mutharraf berkata kepadanya, "Wahai hamba Allah, apa-apaan dengan gaya berjalan yang dimurkai Allah?" Lalu al-Mahlab berkata, 'Apakah kamu mengetahuiku? Al-Mahlab berkata, "Ya, mula-mula kamu adalah air mani yang rusah akhirnya kamu menjadi bangkai yang kotor. Di antara itu kamu membawa kotoran." Lalu, al-Mahlab pergi dan tidak berjalan dengan bergaya. 

4. Allah bersumpah untuk membuktikan hari kebangkitan dan menyanggah orang-orang musyrik yang mengingkarinya dengan tempat-tempat terbit maAhari dan tempattempat terbenamnya. Dia Mahaliuasa unhrk membinasakan mereka dan menghilangkan mereka lalu mendatangkan yang lebih baik dari mereka dalam keutamaan, ketaatan'dan kekayaan. Tidak ada yang tertinggal dari-Nya, tidak ada sesuatu yang mengalahkan-Nya jika Dia menghendaki. Pergantian ini tidak terjadi.Dia hanya mengancam kaum dengan hal itu supaya mereka beriman. 

5. Allah mengancam orang-orang musyrik dan mengancam mereka dengan siksa pada hari Kiamat, sembari memerintah Nabi-Nya agar membiarkan mereka tenggelam dalam kebatilan mereka, bermain dengan dunia mereka dalam bentuk ancaman. Hendaklah Nabi sibuk dengan apa yang diperintahkan untuknya, tidak perlu mempedulikan kemusyrikan mereka. Pada suatu hari, mereka akan menjumpai apa diianjikan kepada mereka. 

6. Allah menyifati keadaan orang-orang musyrik pada hari kebangkitan bahwa mereka ketika mendengar teriakan untuk menyambut Yang Memanggil, maka mereka segera keluar dari kubun sebagaimana mereka di dunia bergegas dan berlomba-lomba menuiu nushub, yakni segala sesuatu yang ditancapkan lalu diiadikan sembahan selain Allah. Allah juga menyifati mereka bahwa pandangan-pandangan mereka meniadi hina dan tertunduk. Mereka tidak mengangkatnya karena mereka menunggu siksa Allah. Mereka ditutupi kehinaan dan kenistaan. 

7. Sesungguhnya hari itu, yakni hari Kiamat yang di dalamnya orang-orang kafir mempunyai sifat seperti itu, adalah hari yang mana mereka telah diancam di dunia bahwa mereka mendapatkan siksa. Ancaman Allah pasti terjadi.

{ فمال الذين كفروا قبلك } نحوك { مهطعين } حال أي مديمي النظر
36. (Mengapakah orang-orang kami itu ke arahmu) menuju kepadamu (dengan bersegera) lafal muhthi`iina berkedudukan sebagai hal atau kata keterangan keadaan, yakni mereka selalu menatapkan pandangannya ke arahmu secara terus-menerus.
{ عن اليمين وعن الشمال } منك { عزين } حال أيضا أي جماعات حلقا حلقا يقولون استهزاء بالمؤمنين : لئن دخل هؤلاء الجنة لندخلنها قبلهم قال تعالى :
37. (Dari kanan dan dari kiri) dari sebelah kananmu dan sebelah kirimu (dengan berkelompok-kelompok) secara bergerombol dan membentuk lingkaran di sekitarmu. Mereka berbuat demikian seraya mengatakan dengan nada mengejek, "Sungguh jika mereka, yakni orang-orang yang beriman, masuk ke dalam surga, niscaya kami benar-benar akan masuk ke dalamnya sebelum mereka." Maka Allah berfirman:
{ أيطمع كل امرئ منهم أن يدخل جنة نعيم }
38. ("Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan?")
{ كلا } ردع لهم عن طمعهم في الجنة { إنا خلقناهم } كغيرهم { مما يعلمون } من نطف فلا يطمع بذلك في الجنة وإنما يطمع فيها بالتقوى
39. (Sekali-kali tidak!) kalimat ini merupakan sanggahan terhadap mereka yang ingin masuk surga, padahal mereka kafir. (Sesungguhnya Kami ciptakan mereka) sama dengan selain mereka (dari apa yang mereka ketahui) yakni dari air mani; maka tidak cukup hanya dengan itu mereka mengharapkan surga, karena sesungguhnya surga itu hanya dapat diharapkan bagi orang-orang yang bertakwa.
{ فلا } لا زائدة { أقسم برب المشارق والمغارب } للشمس والقمر وسائر الكواكب { إنا لقادرون }
40. (Maka) huruf laa di sini adalah huruf zaidah (Aku bersumpah dengan nama Rabb yang memiliki arah timur dan arah barat) yang memiliki matahari, bulan dan bintang-bintang lainnya (sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa.)
{ على أن نبدل } نأتي بدلهم { خيرا منهم وما نحن بمسبوقين } بعاجزين عن ذلك
41. (Untuk mengganti) mereka (dengan kaum yang lebih baik dari mereka, dan sekali-kali Kami tidak dapat dikalahkan) tidak ada yang dapat mengalahkan Kami dalam hal ini.
{ فذرهم } اتركهم { يخوضوا } في باطلهم { ويلعبوا } في دنياهم { حتى يلاقوا } يلقوا { يومهم الذي يوعدون } فيه العذاب
42. (Maka biarkanlah mereka) tinggalkanlah mereka (tenggelam) dalam kebatilan (dan bermain-main) dalam keduniaan (sampai mereka menjumpai) menemui (hari yang diancamkan kepada mereka) yang pada hari itu ada azab bagi mereka.
{ يوم يخرجون من الأجداث } القبور { سراعا } إلى المحشر { كأنهم إلى نصب } وفي قراءة بضم الحرفين شيء منصوب كعلم أو راية { يوفضون } يسرعون
43. (Yaitu pada hari mereka keluar dari kubur) dari tempat-tempat mereka dikubur (dengan cepat) menuju ke padang Mahsyar tempat mereka dihimpunkan (seakan-akan mereka pergi kepada berhala-berhala) menurut suatu qiraat dibaca nushubin, artinya sesuatu yang dibangun untuk pertanda atau tugu, yang dimaksud adalah berhala-berhala (dengan cepatnya) mereka pergi dengan cepat seakan-akan pergi kepada berhala-berhala mereka.
{ خاشعة } ذليلة { أبصارهم ترهقهم } تغشاهم { ذلة ذلك اليوم الذي كانوا يوعدون } ذلك مبتدأ وما بعده الخبر ومعناه يوم القيامة
44. (Dalam keadaan hina) atau nista (pandangan mereka karena diliputi) diselimuti (oleh rasa hina. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka) lafal dzaalika menjadi mubtada, dan lafal-lafal sesudahnya berkedudukan menjadi khabarnya; makna yang dimaksud adalah hari kiamat.

Kamis, 02 Januari 2025

SURAT AL-ANFAL AYAT 9-10

  SYUBHAT SURAT AL-ANFAL AYAT 9-10

(MADANIYYAH 75 AYAT)

BANTUAN PARA MALAIKAT DALAM PERANG BADAR, DIBERIKANNYA RASA KANTUK DAN TURUNNYA HUJAN

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 

اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ

وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى وَلِتَطْمَىِٕنَّ بِهٖ قُلُوْبُكُمْۗ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ

اِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ اَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْاَقْدَامَۗ

اِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ اِلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ اَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ سَاُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوْا فَوْقَ الْاَعْنَاقِ وَاضْرِبُوْا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍۗ

ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ شَاۤقُّوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۚ وَمَنْ يُّشَاقِقِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

ذٰلِكُمْ فَذُوْقُوْهُ وَاَنَّ لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابَ النَّارِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, “Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”9
اُذْكُرْ { إِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ } تَطْلُبُوْنَ مِنْهُ اْلغَوْثَ بِالنَّصْرِ عَلَيْهِمْ { فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّيْ } أَيْ بِأَنِّيْ { َّمُمِدُّكُمْ } مُعِيْنُكُمْ { بِأَلْفٍ مِنَ اْلمَلَائِكَةِ مُرْدِفِيْنَ } مُتَتَابِعِيْنَ يُرْدِفُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا وَعَدَهُمْ بِهَا أَوَّلًا ثُم صَارَتْ ثَلَاثَةُ آلَافٍ ثُمَّ خَمْسَةٌ كَمَا فِي آلِ عِمْرَانَ وَقُرِئَ بِآلَفٍ كَأَفْلَسٍ جُمِعَ
009. (Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan Tuhanmu) ketika kamu meminta pertolongan dari-Nya untuk dapat mengalahkan orang-orang musyrik (lalu diperkenankan-Nya bagimu, "Sesungguhnya Aku) sungguh Aku pasti (memberikan bantuan kepadamu) akan menolongmu (dengan mendatangkan seribu malaikat yang datang berturut-turut") yakni mereka datang secara berturut-turut, sebagian dari mereka menyusul sebagian lainnya. Pada permulaannya Allah menjanjikan untuk mereka bantuan seribu malaikat, kemudian menjadi tiga ribu malaikat, hingga sampai lima ribu malaikat, seperti yang dijelaskan di dalam suroh Ali 'Imran. Menurut suatu qiroot lafal alfun dibaca aalaf seperti aflas dalam bentuk jamak.

وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى وَلِتَطْمَىِٕنَّ بِهٖ قُلُوْبُكُمْۗ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

Dan tidaklah Allah menjadikannya melainkan sebagai kabar gembira agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.10
ٌ{ وَمَا جَعَلَهُ اللهُ } أَيْ اَلِْإمْدَادُ { إِلَّا بُشْرٰى وَلِتَطْمَئِنَّ بِهٖ قُلُوْبُكُمْ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللهِ إِنَّ اللهَ عَزِيْز حَكِيْمٌ }
010. (Dan Allah tidak menjadikannya) bala bantuan tersebut (melainkan sebagian berita gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana).

اِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ اَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْاَقْدَامَۗ

(Ingatlah), ketika Allah membuat kamu mengantuk untuk memberi ketenteraman dari-Nya, dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu dan untuk menguatkan hatimu serta memperteguh telapak kakimu (teguh pendirian).11
اُذْكُرْ { إِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ أَمَنَةً } أَمَنًا مِمّا حَصَلَ لَكُمْ مِنَ اْلخَوْفِ { مِنْهُ } تَعَالَى { وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ } مِنَ اْلأَحْدَاثِ وَاْلجَنَابَاتِ { وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ } وَسْوَسَتُهُ إِلَيْكُمْ بِأَنَّكُمْ لَوْ كُنْتُمْ عَلَى اْلحَقِّ مَا كُنْتُمْ ظَمَأًى مُحْدِثِيْنَ وَاْلمُشْرِكُوْنَ عَلَى اْلمَاءِ { وَلِيَرْبِطَ } يُحْبِسُ { عَلَى ِقُلُوْبِكُمْ } بِاْليَقِيْنِ وَاْلصَبْرِ { وَيُثَبِّتُ بِهِ اْلأَقَدَامَ } أَنْ تَسُوْخَ فِي الرَّمْل
011. (Ingatlah, ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteram) untuk menenteramkan hatimu dari rasa takut yang menimpa dirimu (daripada-Nya) Allah Yang Maha Tinggi (dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu) dari hadas dan jinabah itu (dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan setan) godaan setan dari dirimu yang mengatakan bahwasanya jika kamu berada dalam jalan kebenaran, niscaya kamu tidak akan kehausan lagi berhadas sedang kaum musyrikin berada dekat air (dan untuk menguatkan) mengokohkan (hatimu) dalam keyakinan dan kesabaran (dan memperteguh dengannya telapak kakimu) agar telapak kakimu berdiri tegar di padang pasir.

اِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ اِلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ اَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ سَاُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوْا فَوْقَ الْاَعْنَاقِ وَاضْرِبُوْا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍۗ

(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.” Kelak akan Aku berikan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka pukullah di atas leher mereka dan pukullah tiap-tiap ujung jari mereka.12
{ إِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ إِلَى اْلمَلَائِكَةِ } الَّذِيْنَ أَمَدَ بِهِمُ اْلمُسْلِمِيْنَ { أَنِّيْ } أَيْ بِأَنِّيْ { مَعَكُمْ } بِاْلعَوْنِ وَالنَّصْرِ { فَثَبِّتُوْا الَّذِيْنَ آمَنُوْا } بِاْلإِعَانَةِ وَالتَّبْشِيْرِ { سَأُلْقِيْ فِي قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا الرُّعْبَ } اَلْخَوْفُ { فَاضْرِبُوْا فَوْقَ اْلأَعْنَاقِ } أَيْ اَلرُّؤُوْسِ { وَاضْرِبُوْا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍ } أَيْ أَطْرَافُ اْليَدَيْنِ وَالرِّجْلَيْنِ فَكَانَ الرَجُلُ يَقْصِدُ ضَرْبَ رَقَبَةِ اْلكَافِرِ فَتَسْقُطُ قَبْلَ أَنْ يَصِلَّ إِلَيْهِ سَيْفُهُ وَرَمَاهُمْ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ بِقَبْضَةٍ مِنَ اْلحِصِ فَلَمْ يَبْقَ مُشْرِكٌ إِلَّا دَخَلَ فِي عَيْنِيْهِ مِنْهَا شَيْءٌ فَهَزَمُوْا
012. (Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat) yang diperbantukan kepada kaum Muslimin ("Sesungguhnya Aku) bahwasanya Aku (bersama kamu) memberikan pertolongan dan bantuan (maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang telah beriman) dengan memberikan pertolongan kepada mereka dan mengabarkan berita gembira. (Kelak Aku akan timpakan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir) ketakutan yang sangat (maka penggallah leher mereka) kepala mereka (dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka) ujung-ujung jari tangan dan kaki. Dikatakan bahwa dalam perang itu jika seseorang muslim hendak memukul kepala si kafir tiba-tiba kepala itu sudah jatuh menggelinding sendiri sebelum pedangnya sampai kepadanya. Dan Rosulullah saw. melempar mereka dengan segenggam batu kerikil, maka tidak ada seorang musyrik pun yang luput matanya dari lemparan batu kerikil itu, akhirnya mereka kalah.

ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ شَاۤقُّوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۚ وَمَنْ يُّشَاقِقِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, sungguh, Allah sangat keras siksa-Nya.13
{ ذٰلِكَ } اَلْعَذَابُ اْلوَاقِعُ بِهِمْ { بِأَنَّهُمْ شَاقُّوْا } خَالَفُوْا { اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَمَنْ يُشَاقِقِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَإِنَّ اللهَ شَدِيْدُ اْلعِقَاب } لَهُ
013. (Yang demikian itu) azab yang menimpa mereka itu (adalah karena sesungguhnya mereka menentang) melawan (Allah dan rosul-Nya; dan barang siapa menentang Allah dan rosul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya) terhadapnya.

ذٰلِكُمْ فَذُوْقُوْهُ وَاَنَّ لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابَ النَّارِ

Demikianlah (hukuman dunia yang ditimpakan atasmu), maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang kafir ada (lagi) azab neraka.14
{ ذٰلِكُمْ } اَلْعَذَابُ { فَذُوْقُوْهُ } أَيَّهَا اْلكُفَّارُ فِي الدُّنْيَا { وَأَنَّ لِلْكَافِرِيْنَ } فِي اْلآخِرَةِ { عَذَابُ النَّارِ }
014. (Itulah) hukuman yang ditimpakan atasmu (maka rasakanlah hukuman itu) hai orang-orang kafir, sebagai hukuman di dunia (sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu) kelak di hari kemudian (azab neraka").
Sebab Turunnya Ayat
Imam Ahmad, Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Jarir dan Imam Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Umar bin Khoththob, ia berkata, "Di saat Perang Badar, Nabi S.A.W memandangi para sohabatnya. Jumlah mereka hanya tiga ratus beberapa belas orang saja. Siapa saja di antara para shohabat yang ikut dalam perang Badar, Imam Al-Hafidh Ibnu Hajar rohimahullah menyebutkan dalam kitab Fathul Bari Bi Syarhish Shohihil Bukhori 9/83, dan Imam Al-Hafidh Dhiyauddin Al-Maqdisi rohimahullah dalam kitab Al-Ahkaam, begitu juga dalam kitab ‘Uyunul-Atsar karangan Ibnu Sayyidinnas rohimahullahmereka adalah di antarnya: 1. Abdullah bin ‘Utsman Abu Bakar Ash-Shiddiq. 2. ‘Umar bin Al-Khoththob Al-‘Adawi. 3. ‘Utsman bin ‘Affan Al-Quroisyi (walaupun tidak berada di medan pertempuran, tetapi Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam memberinya bagian dari harta rampasan, karena beliau Shollallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya untuk menjaga putri beliau). 4. ‘Ali bin Abi Tholib Al-Hasyimi. 5. Iyas bin Al-Bukair. 6. Bilal bin Robbah. 7. Hamzah bin Abdil-Muththolib. 8. Hothib bin Abi Balta’ah. 9. Abu Hudzaifah bin Utbah bin Robi’ah Al-Quroisyi. 10. Haritsah bin Ar-Rubayyi’ (Ibnu Suroqah) Al-Anshori. 11. Khubaib bin ‘Adi Al-Anshori. 12. Khunais bin Hudzafah As-Sahmi. 13. Rifa’ah bin Rofi Al-Anshori. 14. Rifa’ah bin Abdil-Mundzir Abu Lubabah Al-Anshori. 15. Az-Zubair bin Al ‘Awwam Al-Quroisyi. 16. Zaid bin Sahl Abu Tholhah Al-Anshori. 17. Abu Zaid al-Anshori. 18. Sa’ad bin Abi Waqqosh Az-Zuhri. 19. Sa’ad bin Khaulah Al-Qurasyi. 20. Sa’id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail Al-Quroisyi. 21. Sahl bin Hunaif Al-Anshori. 22. Zhuhair bin Rofi’ Al-Anshori dan saudara laki-lakinya. 23. ‘Abdullah bin Mas’ud Al-Hudzali. 24. ‘Utbah bin Mas’ud Al-Hudzali (saudara ‘Abdullah bin Mas’ud). 25. ‘Abdur-Rohman bin ‘Auf Az-Zuhri. 26. ‘Ubaidah bin Al Harits Al-Quroisyi. 27. ‘Ubadah bin Ash-Shoomit Al-Anshori. 28. ‘Amr bin ‘Auf. 29. ‘Uqbah bin ‘Amr Abu Mas’ûd Al-Badri Al-Anshori. 30. ‘Amir bin Robi’ah Al-‘Anazi. 31. ‘Ashim bin Tsabit Al-Anshori. 32. ‘Uwaim bin Sa’idah Al-Anshori. 33. ‘Itban bin Malik Al-Anshori. Sambil Memandangi para shohabat Rosulullah S.AW seraya berdoa:
اَللّٰهُمَّ اَنْجِزْلِى مَاوَعَدْتَنِىاَللّٰهُمَّ اِنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَمِنْ اَهْلِ الْاِسْلَامِ, فَلَاتُبَدُفِى الْاَرْضِ اَبَدًا
"Ya Allah, penuhilah apa yang pernah Engkau janjikan padaku. Ya Allah, jika engkau binasakan kelompok kaum Muslimin ini niscaya Engkau tidak akan pernah disembah lagi di bumi ini."
Sayyidina Umar bin Khoththob melanjutkan, "Nabi S.A.W terus berdoa dan memohon pertolongan kepada Tuhannya sampai-sampai sorbannya jatuh dari bahunya. Kemudian datang Sayidina Abu Bakar Ash-Shidiq lalu ia mengambil sorban tersebut dan mengembalikannya ke tempatnya (meletakkan ke atas bahunya). Kemudian ia berdiri di belakang Nabi S.A.W. dan berkata, 
ُيَا نَبِيَّ اللهِ حَسْبُكَ أَنْ تَسْأَلَ رَبَّكَ فَإِنَّهُ سَيُنْجَزُ لَكَ وَعْدُه
"Wahai Nabi Allah, cukuplah engkau memohon pada Tuhanmu, sesungguhnya Dia pasti akan menepati janji-Nya padamu." Setelah itu Allah S.W.T menurunkan firman-Nya, dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 9

اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, “Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”9
Perang Badar di sebut juga Yaumul-Furqon. Itulah nama lain untuk menyebut hari berkecamuknya perang yang pertama kali dalam Islam, yaitu perang Badar. Meskipun bukan peperangan yang besar, namun sangat menentukan perjalanan sejarah Islam. Karenanya dalam Al-Qur`an disebut Yaumul-Furqon, yaitu hari kebenaran menaklukkan kebatilan. Seperti disebutkan dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 41:
وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِّنْ شَيْءٍ فَاَنَّ لِلّٰهِ خُمُسَهٗ وَلِلرَّسُوْلِ وَلِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِ اِنْ كُنْتُمْ اٰمَنْتُمْ بِاللّٰهِ وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Dan ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang miskin dan ibnu sabil, (demikian) jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Di hari itu juga kedua pasukan saling berhadapan dan Allah S.W.T mengalahkan pasukan musyrik. Dari mereka terbunuh sebanyak tujuh puluh orang dan tertawan sebanyak tujuh puluh orang juga.(Tafsir Ar-Rozi 15 /139, Tafsir lbnu Katsir 2/289).
Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa meminta bantuan kepada Allah dilakukan oleh beberapa orang beriman karena rasa takut mereka lebih hebat daripada rasa takut Rosul. Namun, pendapat yang lebih tepat adalah Nabi S.A.W berdoa dan bermohon seperti yang diriwayatkan sementara orangorang beriman lainnya mengaminkan doanya dan berdoa juga di dalam diri mereka, tapi yang dinukilkan adalah doa Rosul dan bukan doa mereka.
Pada peperangan itu kaum Muhajiriin harus berhadapan dengan orang-orang yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan mereka. Seperti Abu Jahal, Amr bin Hisyam, Walid bin Utbah, Syaibah bin Rabi'ah, dan Umayyah bin KholafAl-Aswad bin ‘Abdul-Asad Al-Makhzumi dari Bani Makhzum yang berhadapan dengan Hamzah bin Abdul Muthalib. Hamzah pun berhasil mengalahkan Al-Aswad. Pertemuan di medan peperangan yang harus memilih antara membunuh atau dibunuh. Sementara itu, kaum Anshor yang telah mendeklarasikan kesetiaan kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam , mereka tidak lagi membatasi pembelaan dengan butir-butir pada Baiat ‘Aqobah yang kedua semata. Yaitu pembelaan di wilayah Madinah saja. Akan tetapi mereka siap membela aqidah Islamiyyah tanpa syarat. Jumlah kaum Muhajiriin lebih dari 60 sekian orang. Sedangkan jumlah kaum Anshor lebih dari 240 sekian sahabat. Yang totalnya menurut riwayat kaum muslimin hanya berjumlah 313 prajurit dan 70 unta serta beberapa kuda saja. Sedangkan kaum kafir quroisy berjumlah 1.300 pasukan yang terdiri dari 1.000 pasukan, 600 di antaranya memakai baju besi, 300 kuda, 700 unta, dan dilengkapi dengan persenjataan lengkap.
Dan Perang Badar terjadi pada tgl 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriah, atau bertepatan dengan 13 Maret 624 Masehi.
Badar merupakan nama suatu tempat yang terletak antara Makkah dan Madinah yang memiliki sumber mata air. Peperangan pertama yang dilakukan oleh kaum Muslimin terjadi di wilayah Badar yang pada akhirnya dikenal dengan istilah Perang Badar.Ramadhan menjadi bulan bersejarah terjadinya Perang Badar. Pertempuran yang terjadi antara kaum Muslimin dengan kaum kafir Quroisy tersebut berlangsung mana kala pasukan Islam tengah berpuasa.
Dalam Fiqhus-Siroh karya Muhammad Al-Ghozali diceritakan, bahwa tersiar berita di Madinah tentang adanya sebuah kafilah besar kaum kafir Quraish yang dipimpin Abu Sufyan berangkat meninggalkan Syam. Kafilah dagang tersebut akan bertolak ke Makkah untuk pulang.Dalam perjalanannya, mereka membawa barang dagangan yang sangat besar nilainya. Terdapat seribu ekor unta yang penuh dengan muatan barang berharga, bahkan dalam satu riwayat disebutkan para unta memuat kurang lebih 50.000 dinar emas. Kafilah tersebut berjumlah tidak lebih dari 30 sampai 40 orang.
Terdapat beberapa sebab yang memicu lahirnya Perang Badar. Setidaknya terdapat tiga sebab, yaitu:
Pertama, pengusiran terhadap umat Islam dari Makkah. Selain mengalami pengusiran, umat Islam tidak jarang diperlakukan buruk dengan ditindas, didholimi bahkan dirampas harta bendanya oleh kaum kafir Quraish.
Kedua, penindasan yang diterima oleh umat Islam. Kendati telah melakukan hijroh ke Madinah, penindasan yang dilakukan oleh kaum kafir Quraish masih dialami umat Islam. Kaum Muslimin yang berdagang kerap disiksa dan dirampas barang dagangannya.
Ketiga, sebagai pelajaran kepada kaum kafir Quraisy. Perang Badar lahir salah satunya disebabkan perilaku keji kaum kafir Qurasih. Oleh sebab itu, Rosulullah mempersiapkan umat Islam untuk memberi pelajaran kepada kafilah dagang Quroisy yang akan bertolak ke Makkah.
Ahli Badar, yaitu para sahabat yang berlaga di medan peperangan Badir ini sangat pantas memperoleh penghormatan yang tinggi. Sampai akhirnya gelar Al-Badri ( الْبَدْرِيُّ ), yang menunjukkannya sebagai bagian dari pasukan Muslimin di perang Badar pun melekat pada setiap nama-nama mereka. Al-Qur`an juga mengabadikan kegigihan para Ahli-Badr dalam memperjuangkan agama di hadapan kaum musyrikin, sebagaimana tersebut dalam Al-Qur'anul Karim surat Ali ‘Imron(3) ayat 123-127 dan surat Al-Anfal secara umum.
Al-Qur'anul Karim surat Ali ‘Imron(3) ayat 123-127:
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّٰهُ بِبَدْرٍ وَّاَنْتُمْ اَذِلَّةٌ ۚ فَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Dan sungguh, Allah telah menolong kamu dalam perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukuri-Nya.
Al-Qur'anul Karim surat Ali ‘Imron(3) ayat 124:
اِذْ تَقُوْلُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ اَلَنْ يَّكْفِيَكُمْ اَنْ يُّمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلٰثَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُنْزَلِيْنَۗ
(Ingatlah), ketika engkau (Muhammad) mengatakan kepada orang-orang beriman, “Apakah tidak cukup bagimu bahwa Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?”
Al-Qur'anul Karim surat Ali ‘Imron(3) ayat 125:
بَلٰٓى ۙاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا وَيَأْتُوْكُمْ مِّنْ فَوْرِهِمْ هٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُسَوِّمِيْنَ
“Ya” (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.
Al-Qur'anul Karim surat Ali ‘Imron(3) ayat 126:
وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى لَكُمْ وَلِتَطْمَىِٕنَّ قُلُوْبُكُمْ بِهٖ ۗ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِۙ
Dan Allah tidak menjadikannya (pemberian bala-bantuan itu) melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar hatimu tenang karenanya. Dan tidak ada kemenangan itu, selain dari Allah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
Al-Qur'anul Karim surat Ali ‘Imron(3) ayat 127:
لِيَقْطَعَ طَرَفًا مِّنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْ يَكْبِتَهُمْ فَيَنْقَلِبُوْا خَاۤىِٕبِيْنَ
(Allah menolong kamu dalam perang Badar dan memberi bantuan) adalah untuk membinasakan segolongan orang kafir, atau untuk menjadikan mereka hina, sehingga mereka kembali tanpa memperoleh apa pun.
Dalam perang tersebut, Haritsah bin Suroqah bin Al Harits gugur. Lantas sang ibu, Rubayyi’ binti An-Nadhor, bibi Anas bin Malik Rodhiyallahu anhuma menemui Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam untuk menanyakan kondisi anaknya kelak, apakah berada di surga sehingga dirinya akan bersabar dan rela, atau berada dalam kondisi yang lain? Demikian pertanyaan dari si ibu. Maka Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa Haritsah tidak hanya berada di satu surga, akan tetapi berada di sekian banyak surga.
Keutamaan para Ahli Badri juga tersirat pada kisah sahabat Hathib bin Abi Balta’ah saat ia mencoba membocorkan rencana penyerangan ke Makkah. Sehingga Sahabat ‘Umar menganggap perbuatan tersebut sebagai pengkhianatan. Oleh karenanya, ia pantas dibunuh. Mendengar kekecewaan ‘Umar bin Al-Khoththob, maka Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan:
فَقَالَ أَلَيْسَ مِنْ أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ لَعَلَّ اللَّهَ اطَّلَعَ إِلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ فَقَدْ وَجَبَتْ لَكُمْ الْجَنَّةُ أَوْ فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ فَدَمَعَتْ عَيْنَا عُمَرَ وَقَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ
“Bukankah ia (Haathib) itu termasuk yang ikut perang Badar? Dan Allah telah menyaksikan Ahli Badar, seraya berfirman: ‘Berbuatlah apa yang kalian kehendaki, sungguh surga telah pasti bagi kalian’, atau dalam riwayat lain: ‘Aku telah mengampuni kalian’.” (HR. Al-Bukhori, kitab Al-Maghozi bab Fadhlu man Syahida Badron, hadits no. 3983. Muslim, kitab Fadhoili Ash-Shohabah, Bab: Min Fadloili Ahli Badrin wa Qishshoti Hathib ibni Abi Balta’ah, no. 4550)
Oleh karenanya, untuk memberi penghormatan kepada mereka, maka pada masa pemerintahan ‘Umar Bin Khoththob, para Ahli Badar ini ditempatkan pada posisi tertinggi dalam daftar nama keprajuritan. Yang juga berarti memperoleh tunjangan yang besar dari negara.
Persesuaian Ayat 
Setelah Allah S.W.T menjelaskan di ayat sebelumnya bahwa Dia akan memenangkan yang benar (haq) dan mengalahkan yang bathil, dalam ayat ini, Dia menjelaskan bahwa Dia membantu mereka ketika mereka meminta pertolongan. firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 8:
لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُوْنَۚ
agar Allah memperkuat yang hak (Islam) dan menghilangkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.
l'roob
اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ Kalimat ini adalah badal dari kata اِذْ dalam potongan ayat: اِذْ يَعِدُكُمُ  yang ada pada firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 7:
وَاِذْ يَعِدُكُمُ اللّٰهُ اِحْدَى الطَّاۤىِٕفَتَيْنِ اَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّوْنَ اَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُوْنُ لَكُمْ وَيُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمٰتِهٖ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكٰفِرِيْنَۙ
Dan (ingatlah) ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah untukmu. Tetapi Allah hendak membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya,
الْبَدَلُ
BAB BADAL
التَّابعُ المَقْصُودُ بالْحُكْمِ بلا  *** وَاسِطَةٍ هُوَ المُسَمَّى بَدَلا
Tabi' yang mempunyai maksud sama (dengan matbu'nya), memakai perantara, dinamakan badal
مُطَابِقَاً أَو بَعْضَاً أَو مَا يَشْتَمِل   *** عَلَيْهِ يُلفَى أَو كَمَعْطُوفٍ بِبَل
Sebagai badal muthobiq, atau badal ba'dli, atau badal isytimal, atau badal seperti makna lafadh yang di-athof-kan dengan bal.
وَذَا لِلاضْرَابِ اعْزُ إِنْ قَصْدَاً صَحِبْ  *** وَدُونَ قَصْدٍ غَلَطٌ بِهِ سُلِبْ
Yang terakhir ini namakanlah badal idlrob, apabila disertai de- ngan maksud, dan apabila tidak disertai dengan maksud, maka dikategorikan sebagai badal gholath.
كَزُرْهُ خَالِدَاً وَقَبِّلهُ اليَدَا   ***  وَاعْرِفْهُ حَقَّهُ وَخُدْ نَبْلاً مُدَى
seperti: "zurhu khoolidan" (kunjungilah dia yakni khalid), qobbilhul yadaa (ciumlah dia tangannya), a'rifhu haqqohu (hargailah dia yakni haknya), khudz nablan mudaa (ambillah panah yakni pisau).
وَمِنْ ضَمِيْرِ الحَاضِرِ الظَّاهِرَ لاَ  *** تُبْدِلهُ إلاَّ مَا إِحَاطَةً جَلاَ
Terhadap dlomir yang hadir janganlah menggantikannya (mem- buat badal untuknya) dengan isim dhohir, kecuali maknanya jelas menunjukkan ihaathoh (meliputi),
أوِ اقْتَضَى بَعْضَاً أَوِ اشْتِمَالاَ  *** كََّانكَ ابْتِهَاجَكَ اسْتَمَالاَ
atau menunjukkan makna badal ba'dli, atau badal isytimal, contoh "Innaka ibtihaajakas timaalaa" (sesungguhnya kamu, yakni dibalik kecerahanmu itu minta belas kasihan).
وَبَدَلُ المُضَمَّنِ الهَمْزَ يَلِي  *** هَمْزَاً كَمَنْ ذَا أَسَعِيْدٌ أَمْ عَلِي
Badal yang mengandung hamzah istifham harus diikuti oleh ham- zah-istifham pula (mubdal minhu-nya) contoh "man dzaa Asa'iidun am-'Ali" (Siapakah ini, Sa'id atau 'Ali?).
وَيُبْدَلُ الفِعْلُ مِنَ الفِعْلِ كَمَنْ  *** يَصِل إِلَيْنَا يَسْتَعِنْ بِنَا يُعَنْ
Fi'il dapat diganti oleh fi'il lainnya, contoh "Man yashil ilainaa yasta'in binaa yu'an (Barang siapa yang sampai kepadaku meminta tolong kepadaku, niscya ia akan mendapat pertolongan).
بِاَلْفٍ Posisinya adalah manshuub oleh kalimat مُمِدُّكُمْ. Ada juga yang membacanya dengan بِاَلٓافٍ  bentuk jamak dari kata اَلْفٌ karena timbangan/mengikuti wazan فَعْلٌ timbangan/wazan dalam bentuk jamaknya adalah اَفْعَلٌ seperti فَلْسٌ jamaknya adalah اَفْلَسٌ dan كََلْبٌ jamaknya adalah اَكْلَبٌ Bacaan ini dikuatkan oleh potongan ayat: بِخَمْسَةِ اٰلَافٍ dalam firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Ali 'Imron ayat 125:
بَلٰٓى ۙاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا وَيَأْتُوْكُمْ مِّنْ فَوْرِهِمْ هٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُسَوِّمِيْنَ
“Ya” (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.
Kata اٰلَافٍ  adalah bentuk jamak dari اَلْفٌ untuk bilangan di bawah sepuluh dan pada ayat بِخَمْسَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ ia menjadi sifat bagi kata اَلْفٌ.
جَمْعُ الْتَّكْسِيْر
Bab Jama’ Taksir
أَفْعِلَةٌ أَفْعُلُ ثُمَّ فِعْلَهْ *** ثُمَّتَ أَفْعَالٌ جُمُوْعُ قِلَّةْ
Wazan af'ilatun, af'ulun, lalu fi'latun kemudian af'aalun semuanya adalah bentuk jamak qillah.
وَبَعْضُ ذِي بِكَثْرَةٍ وَضْعَاً يَفِي ***  كَأَرْجُلٍ وَالْعَكْسُ جَاءَ كَالْصُّفِي
Sebagian di antara bentuk jamak qillah terkadang dianggap cukup sebagai pengganti jamak katsroh, seperti lafadh arjulun; terkadang kebalikannya pun ada pula seperti lafadh shufi.
لِفَعْلٍ اسْمَاً صَحَّ عَيْنَاً أَفْعُلُ ***  وَلِلْرُّبَاعِيِّ اسْمَاً أَيْضَاً يُجْعَلُ
Bagi isim yang berwazan fa'il dan shohih 'ain-nya wazan af'ulun, dan bagi isim yang ruba'ii wazan ini dapat dijadikan pula sebagai jamaknya,
إِنْ كَانَ كَالْعَنَاقِ وَالْذِّرَاعِ فِي ***  مَدَ وَتأْنِيْثٍ وَعَدِّ الأَحْرُفِ
 yaitu apabila isim ruba'ii tersebut seperti lafadh 'anaaqun dan dzi roo'un dalam hal dibaca panjang, bentuk ta-nits, dan bilangan hurufnya.
وَغَيْرُ مَا أَفْعُلُ فِيْهِ مُطَّرِدْ  *** مِنَ الْثُّلاَثِي اسْمَاً بِأَفْعَالٍ يَرِدْ
Selain lafadh yang dapat diberlakukan terhadap wazan af'ulun dian tara isim tsulatsii, maka bentuk jamaknya adalah wazan af'aalun
وَغَالِبَاً أَغَنَاهُمُ فِعْلاَنُ ***  فِي فُعَلٍ كَقَوْلِهِمْ صِرْدَانُ
 Tetapi sebagian besar wazan fi'laanu dapat mencukupi mufrad yang berwazan fu'alun, seperti dalam perkataan mereka shirdaanu
فِي اسْمٍ مُذكَّرٍ رُبَاعِيَ بِمَدّ ***  ثَالِثٍ أفْعِلَةُ عَنْهُمُ اطَّرَدْ
isim mudzakkar yang ruba'ii dengan huruf nomor tiga yang dipanjangkan, bentuk jamaknya diberlakukan oleh mereka dengan memakai wazan af'ilatun.
وَالْزَمْهُ فِي فَعَالٍ أوْ فِعَالِ  *** مُصَاحِبَيْ تَضْعِيْفٍ أوْ إِعْلاَلٍ
Dan tetapkanlah wazan ini terhadap wazan fa'aalun atau fi'aalun, sebagai bentuk jamak dari isim yang mudlo'af atau mu'tal.
فُعْلٌ لِنَحْوِ أَحْمَرٍ وحَمْرَا  *** وَفِعْلَةٌ جَمْعَاً بنَقْلٍ يُدْرَى
Wazan fu'lun untuk jamak lafadh seperti ahmara dan hamraa. Wazan fi'latun merupakan bentuk jamak yang telah diketahui melalui dalil naqlii
وَفُعُلٌ لاسْمٍ رُبَاعِيٍّ بِمَدّ قَدْ ***  زِيْد قَبْلَ لاَمٍ اعْلاَلاً فَقَدْ
Wazan fu'ulun adalah bentuk jamak dari fi'il ruba'ii, sebelum lam nya ditambahkan huruf madd, huruf akhirnya terbebas dari huruf illat,
مَا لَمْ يُضَاعَفْ فِي الأَعَمِّ ذُو الأَلِفْ ***  وَفُعَلٌ جَمْعَاً لِفُعلَةٍ عُرِفْ
Selagi isim yang mempunyai alif tersebut tidak di-mudlo'af kan (tidak ditasydidkan). Wazan fu'alun berlaku sebagai bentuk jamak dari fu'latun,
وَنَحْوِ كُبْرَى وَلِفِعْلَةٍ فِعَلْ ***  وَقَدْ يَجِيءُ جَمْعُهُ عَلَى فُعَلْ
 Yaitu seperti lafaz kubroo. Bagi wazan fi'latun bentuk jamak yang berwazan fi'alun, terkadaang jamaknya diungkapkan kedalam bentuk  wazan fu'alun.
فِي نَحْوِ رَامٍ اطِّرَادٍ فُعَلَهْ ***  وَشَاعَ نَحْوُ كَامِلٍ وَكَمَلَهْ
Untuk semacam lafadh "roomin" menurut patokan bentuk jamaknya berwazan "fu'alatun". Telah terkenal untuk semacam lafadh "kaami lun" bentuk jamaknya berwazan "kamalatun"
فَعْلَى لِوَصْفٍ كَقَتِيْلٍ وَزَمِنْ ***  وَهَالِكٍ وَمَيِّتٌ بِهِ قَمِنْ
Wazan fa'laa untuk washf seperti lafadh qotilun. Lafadh zaminun haalikun dan mayyitun terkandung pula dalam wazan ini
لِفُعْلٍ اسْمَاً صْحَّ لاَمَاً فِعَلَهْ ***  وَالْوَضْعُ فِي فَعْلٍ وَفِعْلٍ قَلَّلَهْ
Bagi isim yang berwazan fu'lun yang shohih lam-nya, bentuk jamak nya berwazan fi'alatun, dan bagi isim yang berwazan fi'lun dan fa' lun bentuk jamak wazan ini (fi'alatun) dianggap jarang.
وَفُعَّلٌ لِفَاعِلٍ وَفَاعِلَهْ  *** وَصْفَيْنِ نَحْوُ عَاذِلٍ وَعَاذِلَهْ
Wazan fu' 'alun adalah bentuk jamak isim yang berwazan faa'ilun dan faa'ilatun kedua-duanya merupakan washfi, seperti lafadh 'aadzi-lun dan aadzilatun.
وَمِثْلُهُ الْفُعَّالُ فِيْمَا ذُكِّرَا ***  وَذَان فِي الْمُعَلِّ لاَمَاً نَدَرَا
sama dengan fu' 'alun wazan fu'aalun yang diperuntukkan bagi isim mudzakkar; kedua wazan tersebut jarang dijumpai dalam isim yang mu'tal lam-nya.
فَعْلٌ وَفَعْلَةٌ فِعَالٌ لَهُمَا ***  وَقَلَّ فِيْمَا عَيْنُهُ الْيَا مِنْهُمَا
Wazan falun dan fa'latun keduanya bentuk jamak berrwazan fi'a lun; tetapi jamak ini jarang dijumpai dalam lafadh yang mu'tal 'ain berupa huruf ya dari keduanya.
وَفَعَلٌ أَيْضَاً لَهُ فِعَالُ  *** مَا لَمْ يَكُنْ فِي لاَمِهِ اعْتِلاَلُ
lafadh fa'alun juga jamaknya berwazan fi'aalun selagi lam-nya yang bukan huruf 'illat,
أَوْ يَكُ مُضْعَفَاً وَمِثْلُ فَعَلِ  *** ذُو الْتَّا وَفِعْلٌ مَعَ فُعْلٍ فَاقْبَلِ
atau bukan mudlo'af. Sama dengan fa'alun yaitu lafadh fa'alatun dengan memakai ta, dan terima pulalah jamak wazan ini untuk lafadh yang berwazan fulun serta fi'lun
وَفِي فَعِيْلٍ وَصْفَ فَاعِلٍ وَرَدْ  *** كَذَاكَ فِي أنْثَاهُ أَيْضَاً اطَّرَدْ
Wazan ini (fi'aalun) berlaku pula untuk isim yang berwazan fa'ilun bentuk washfi dari faa'ilun, demikian pula terhadap bentuk mutsanna-nya dapat diberlakukan wazan ini.
وَشَاعَ فِي وَصْفٍ عَلَى فَعْلاَنَا  *** أَوْ أُنْثَيَيْه أَوْ عَلَى فُعْلاَنَا
Wazan fi'aalun terkenal pula sebagi bentuk jamak dari washof ber-wazan fa'laanun, atau bentuk muannats-nya fa'laanatun., atau berwazan fulaanun.
وَمِثْلُهُ فُعْلاَنَةً وَالْزَمْهُ فِي ***  نَحْوِ طَوِيْلٍ وَطَوِيْلَةٍ تَفِي
Sama dengan wazan fu'laanun yaitu wazan fu'laanatun. Tetapkanlah jamak ini dalam lafadh seperti thowiilun dan thowiilatun, maka hal ini sudah dianggap cukup.
وَبِفُعُوْلٍ فَعِلٌ نَحْوُ كَبِدْ ***  يُخَصُّ غَالِبَاً كَذَاكَ يَطَّرِدْ
Dengan wazan fu'uulun lafadh yang berwazan fa'ilun di-jamak-kan seperti lafadh kabidun, hal ini umumnya merupakan suatu hal yang khusus baginya. Demikian puila wazan ini dapat diberlakukan,
فِي فَعْلٍ اسْمَاً مُطْلَقَ الْفَا وَفَعَلْ ***  لَهُ وَلِلْفُعَالِ فِعْلاَنٌ حَصَلْ
terhadap lafadh yang berwazan fa'lun sebagai isim yang fa-nya dapat dibaca tiga bacaan. Lafadh fa'alun dapat dijamakkan dengan wazan fu'uulun. Bagi wazan fu'aalun bentuk jamaknya adalah fi'laanun.
وَشَاعَ فِي حُوْتٍ وَقَاعٍ مَعَ مَا ***  ضَاهَاهُمَا وَقَلَّ فِي غَيْرِهِمَا
 Telah terkenal pada lafadh huutun dan qaa'un serta lafadh lainnya yang serupa bentuk jamak wazan ini (filaanun); tetapi sedikit dalam selain keduanya.
وَفَعْلاً اسْمَاً وَفَعِيْلاً وَفَعَلْ  *** غَيْرَ مُعَلِّ الْعَيْنِ فُعْلاَنٌ شَمَلْ
Isim yang berwazan fa'lun dan fa'iilun serta fa'alun yang ain-nya tidak mu'tal tercakup pula ke dalam jamak yang berwazan fulaanun.
وَلِكَرِيْمٍ وَبَخِيْلٍ فُعَلاَ ***  كَذَا لِمَا ضَاهَاهُمَا قَدْ جُعِلا
Bagi lafadh kariimun dan bakhiilun jamak yang berwazan fu'alaa demikian pula bagi lafadh-lafadh yang menyamai keduanya, bentuk ja mak ini dapat dipakai untuknya.
وَنَابَ عَنْه أَفْعِلَاء فِي المُعَلّ ***  لاَمَاً وَمُضْعَفٍ وَغَيْرُ ذَاكَ قَلّ
Wazan af'ilaa-u menggantikan kedudukan fu'alaa-u bagi isim yang mu'tal 'ain-nya dan yang di-mudlo'af-kan; ada pun selain hal tersebut sedikit pemakaiannya.
فَوَاعِلٌ لِفَوْعَلٍ وَفَاعَلِ ***  وَفَاعِلاء مَعَ نَحْوِ كَاهِل
Wazan fawaa'ilun adalah bentuk jamak untuk lafadh yang berwazan fau'alun, faa'ilun, faa'ilaa-u dan hal yang seperti lafadh kaahilun,
وَحَائِضٍ وَصَاهِلٍ وَفَاعِلَهْ ***  وَشَذَّ فِي الْفَارِسِ مَعْ مَا مَاثَلَهْ
dan lafadh haaidlun, shoohilun, dan juga untuk lafadh yang berwazan faa'ilatun. Bentuk jamak ini dianggap syadz untuk lafadh faarisun beserta lafadh-lafadh yang semisal dengannya
وَبِفَعَائِلَ اجْمَعْنَ فَعَالَهْ ***  وَشِبْهَهُ ذَا تَاءٍ أوْ مُزَالَهْ
Dengan memakai wazan fa'aaila jamak-kanlah lafadh yang berwazan fa'aalatun dan yang serupa dengannya, baik yang mempunyai ta maupun yang tidak mempunyai ta
وَبِالْفَعَالِي وَالْفَعَالَى جُمِعَا صَحْرَاءُ ***  وَالْعَذْرَاءُ وَالْقَيْسَ اتْبَعَا
Dengan memakai wazan fa'aalii dan fa'aalaa lafadh shohroo-u dan lafadh 'adzroo-u di-jamak-kan, kiaskanlah kedua wazan ini.
وَاجْعَلْ فَعَالِيَّ لِغَيْرِ ذِي نَسَبْ ***  جُدِّدَ كَالْكُرْسِيِّ تَتْبَعِ الْعَرَبْ
Jadikanlah wazan "fa'aaliyya" untuk selain isim yang tidak diperbarui oleh nasab, seperti lafadh "kursiyyun", berarti mengikuti cara orang-orang Arob.
وَبِفَعَالِلَ وَشِبْهِهِ انْطِقَا ***  فِي جَمْعِ مَا فَوْقَ الْثَّلاَثَةِ ارْتَقَى
Dengan memakai wazan fa'aalilu dan yang sejenisnya ucapkanlah membentuk jamak isim yang lebih dari tiga huruf.
مِنْ غَيْرِ مَا مَضَى وَمِنْ خُمَاسِي ***  جُرِّدَ الاخِرَ انْفِ بِالْقِيَاسِ
Selain dari hal-hal yang telah disebutkan di atas, dari isim khumasi (yang terdiri dari lima huruf) yang mujarrod buanglah huruf akhirnya menurut kias.
وَالْرَّابِعُ الْشَّبِيْهُ بِالْمَزِيْدِ قَدْ ***  يُحْذَفُ دُوْنَ مَا بِهِ تَمَّ الْعَدَدْ
Terkadang huruf keempat yang mirip dengan huruf zaidah (tambahan) dibuang, bukan huruf terakhirnya
وَزَائِدَ الْعَادِي الْرُّبَاعِي احْذِفُهُ مَا ***  لمْ يَكُ لَيْنَاً إثْرَهُ الَّلذْ خَتَما
Buanglah huruf zaidah selain dari huruf yang keempat, selagi huruf yang keempat itu bukan huruf lain yang sesudahnya terdapat hu ruf terakhir.
والسِّين والتَّا مِن كَمُستَدْعٍ أَزِلْ ***  إذ بِبِنا الجمع ِبَقَاهُمَا مُخِلْ
Hilangkanlah huruf sin dan ta dari lafadh yang semisal dengan lafadh mustad'in, sebab bila ditetapkan dalam bentuk jamak, maka bentuk jamak menjadi cacat karenanya.
والميمُ أولى مِن سِوَاهُ بالبَقَا ***  والهَمزُ واليَا مِثلُهُ إن سَبَقَا
Huruf mim lebih utama untuk ditetapkan daripada huruf lain- nya, demikian pula hamzah dan ya sama dengan mim apabila keduanya mendahului
والياءَ لا الواوَ احْذِفِ انْ جمَعَتْ ما ***  كَحَيْزَبُونٍ فَهْوَ حُكْمٌ حُتِمَا
Buanglah ya dan jangan wawu, apabila kedua-duanya dikumpul kan dalam satu lafadh, seperti lafadh hayzabuunun, hal ini merupa kan suatu ketentuan yang harus.
وخَيَّرُوا في زائِدَيْ سَرَنْدَى  *** وكُلِّ ما ضَاهَاهُ كالعَلَنْدَى
Mereka memilih salah satu di antara dua huruf tambahan dalam lafadh sarandaa dan lafadh lafadh lainnya yang sejenis dengannya seperti "alandaa" (tanpa memprioritaskan salah satu di antaranya).
مُرْدِفِيْنَ Dibaca dengan huruf dal yang kasrah merupakan sifat dari kata اَلْفٌ dengan pengertian bahwa kedatangan mereka mengiringi kedatangan yang lain. Artinya, masingmasing malaikat datang silih berganti. مُرْدِفِيْنَ dibaca dengan hurufdal yang fathah dan tidak bertasydid مُرْدَفِيْنَ . Posisinya bisa manshuub sebagai hal dari kaf dan mim/dhomir mukhotobin dalam kalimat مُمِدُّكُمْ, 
اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ
dan bisa juga dalam posisi jarr karena ia sifat dari kata اَلْفٌ artinya mereka mengiringi yang seribu. Ada juga yang membaca مُرَدَّفِيْنَ.
مُرْدِفِيْنَ adalah isim fa'il berbentuk jama' mudzakar salim dari fi'ilnya اَرْدَفَ-يُرْدِفُ-اِرْدَافًا-وَمَرْدَافًا-فَهُوَ-مُرْدِفٌ-وَذَاكَ-مُرْدَفٌ-اًرْدِفْ-لَاتُرْدِفْ mengikuti wazan اَفْعَلَ-يُفْعِلُ-اِفْعَالًا-وَمَفْعَالًا-فَهُوَ-مُفْعِلٌ-وَذَاكَ-مُفْعَلٌ-اَفْعِلْ-لَاتُفْعِلْ dari fi'il tsulatsi mazid بِزِيَادَةِحَرْفٍ وَاحِدٍ (dengan penambahan satu huruf) di sebut juga fi'il tsulatsi mazid ruba'i.
اِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ Kalimat ini adalah badal kedua dari kalimat اِذْ يَعِدُكُمُ yang ada pada firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 7:
وَاِذْ يَعِدُكُمُ اللّٰهُ اِحْدَى الطَّاۤىِٕفَتَيْنِ اَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّوْنَ اَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُوْنُ لَكُمْ وَيُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمٰتِهٖ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكٰفِرِيْنَۙ
atau posisinya manshuub oleh kata النَّصْرُ yang ada pada firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 10:
وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى وَلِتَطْمَىِٕنَّ بِهٖ قُلُوْبُكُمْۗ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
atau juga dengan mentaqdirkan/menyembunyikan kalimat اُذْكُر. Fa'il (pelaku) dalam kalimat ini adalah Allah SWT. النُّعَاسَ Kata ini sebagai maf'ul bih (objek), sementara kata اَمَنَةً adalah maf'ul li ajlih, artinya "(lngatlah), ketika Allah membuat kamu mengantuk untuk memberi ketenteraman dari-Nya." Kata اَمَنَةً  sendiri merupakan bentuk ajektif (sifat) dari kata اَمَنَةً artinya sebuah rasa aman yang terjadi padamu yang datang dari Allah SWT.
اِذْ يُوْحِيْ yang ada pada firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 12:
اِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ اِلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ اَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ سَاُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوْا فَوْقَ الْاَعْنَاقِ وَاضْرِبُوْا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍۗ
Kalimat ini adalah badal ketiga dari kalimat اِذْ يَعِدُكُمُ dan boleh jadi juga diposisikan sebagai manshuub dari kata يُثَبِّتَ  yang ada pada firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 11:
اِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ اَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْاَقْدَامَۗ
اَنِّيْ مَعَكُمْ Kalimat ini adalah maf'ul dari kata يُوْحِيْ.
ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ شَاۤقُّوا اللّٰهَ  yang ada pada firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 13:
ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ شَاۤقُّوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۚ وَمَنْ يُّشَاقِقِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Kata ذٰلِكَ adalah mubtada' atau khobor dari mubtada', taqdir-nya adalah : الْاَمْرُذٰلِكَ/ذٰلِكَ الْاَمْرُ "urusan itu"
ذٰلِكُمْ فَذُوْقُوْهُ yang ada pada firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 14:
ذٰلِكُمْ فَذُوْقُوْهُ وَاَنَّ لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابَ النَّارِ
Kalimat ini adalah khobar dari mubtada' yang muqoddar (dipersepsikan), taqdir-nya adalah وَالْاَمْرُذٰلِكُمْ. 
وَاَنَّ لِلْكٰفِرِيْنَ Kalimat ini di'athofkan kepada kata ذٰلِكُمْ taqdiir-nya adalah وَالْاَمْرُاَنَّ لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابَ النَّارِ "sementara untuk orong-orang kafir itu disediakan adzab neraka."
Balaaghoh
اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ Dalam kalimat ini digunakan shighoh (bentuk kata) mudlori' (menunjukkan masa akan datang) dan bukan madli (menunjukkan masa lampau) untuk lebih menghadirkan gambaran peristiwa dalam pikiran. وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً didahulukannya jarr dan majrur daripada maf'ul bih untuk lebih memberikan perhatian pada kalimat yang didahulukan dan menimbulkan rangsangan untuk mengetahui substansi kalimat yang dikemudiankan.
ِفَصْلٌ فِي أَبْوَابِ الثُّلَاثِي الْمَزِيْد
أَوَّلُـهَا الرُّبَـاعِ مِثْلُ أَكْرَمَــا (10) وَفَعَّـلَ وَ فَـاعَلاَ كَـخَاصَمَـــا
وَاخْصُصْ خُمَاسِيًّا بِذِي الأَوْزَانِ (11) فَـبَـدْؤُهَا كَـا نْكَـسَرَ وَ الثَّـانِي
اِفْـتَعَلَ اِفْـعَلَّ كَذَا تَفَــعَّلاَ (12) نَــحْوُ تَعَــلَّمَ وَزِدْ تَفَاعَـــلاَ
ثُمَّ السُّدَاسِيْ استَفْعَلاَ وَ افْعَوْعَـلاَ (13) وَافْعَــوَّلَ افْعَـنْلَى يَـلِيهِ افْعَنْلَـلاَ
وَافْعَالَ مَا قَدْ صَاحَبَ الَّلاَمَينِ (14) زَيْـدُ الرُّبَاعِـيِّ عَلَـى نَوْعَــيْنِ
ذِي سِتَّةٍ نَحْوُ افْعَلَلَّ افْعَنْلَـلاَ (15) ثُـمَّ الـخُـمَاسِيْ وَزْنُـهُ تَفَعْلَـلاَ
Mufrodaat Lughowiyyah
اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ meminta bantuan agar dimenangkan menghadapi mereka. اَنِّيْ bahwa Aku. مُمِدُّكُمْ akan mendatangkan bala bantuan kepadamu. مُرْدِفِيْنَ yang datang berturut-turut. Kata-kata ini terambil dari kata-kata الاِرْدَافُ yang berarti membonceng di belakang. Jumlah malaikat yang diturunkan itu pertama kali adalah seribu malaikat kemudian menjadi tiga ribu lalu terakhir lima ribu sebagaimana yang dijelaskan dalam surah Ali'lmron ayat 124 dan 125:
اِذْ تَقُوْلُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ اَلَنْ يَّكْفِيَكُمْ اَنْ يُّمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلٰثَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُنْزَلِيْنَۗ
(Ingatlah), ketika engkau (Muhammad) mengatakan kepada orang-orang beriman, “Apakah tidak cukup bagimu bahwa Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?”
بَلٰٓى ۙاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا وَيَأْتُوْكُمْ مِّنْ فَوْرِهِمْ هٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُسَوِّمِيْنَ
“Ya” (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.
وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ yang ada pada firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 1o:
وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى وَلِتَطْمَىِٕنَّ بِهٖ قُلُوْبُكُمْۗ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
وَلِتَطْمَىِٕنَّ merasa tenteram setelah perasaan takut dan cemas yang menimpa kamu secara umum. عَزِيْزٌ yang menguasai segala perkara. حَكِيْمٌ yang meletakkan sesuatu pada tempatnya.
يُغَشِّيْكُمُ Dia jadikan rasa kantuk itu seperti selimut bagimu karena ia menguasai dan menyelimuti diri kamu. النُّعَاسَ lemahnya seluruh indra dan otot-otot tubuh yang diikuti dengan tidur. Jadi kantuk merupakan pendahuluan tidur yang ia melemahkan kekuatan indra, sementara tidur menghilangkannya sama sekali. اَمَنَةً ketenteraman dariNya dari rasa takut yang kamu rasakan. اَمَنَةً dari Allah SWT. لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ dari berbagai hadas dan junub. رِجْزَ الشَّيْطٰنِ gangguan-gangguan setan untukmu bahwa seandainya kamu berada dalam kebenaran tentu kamu tidak akan merasakan haus dan berhadas, sementara orang-orang musyrik memiliki air yang cukup. وَلِيَرْبِطَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ ditahan atau dikukuhkan dan dibawa kepada rasa sabar dan yakin. وَيُثَبِّتَ بِهِ الْاَقْدَامَۗ tertahan dan tertanam dalam pasir. فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ dengan dibantu dan diberi kabar gembira. الرُّعْبَ rasa ketakutan. فَوْقَ الْاَعْنَاقِ kepala. كُلَّ بَنَانٍۗ tiap-tiap ujung jari tangan dan kaki. ذٰلِكَ adzab yang ditimpakan pada mereka itu. اَنَّهُمْ شَاۤقُّوا permusuhan itu dinamakan dengan musyaqqoh (membelah karena ia membuat masing-masing pihak berada di sisi yang saling berbeda. ذٰلِكُمْ adzab yang demikian itu. فَذُوْقُوْهُ wahai orang-orang kafir di dunia وَاَنَّ لِلْكٰفِرِيْنَ bagi orang-orang kafir di akhirat nanti.
Tafsir dan Penjelasan
Ingatlah wahai orang-orang beriman ketika kamu meminta bantuan kepada Tuhanmu saat kamu yakin bahwa perang mesti akan terjadi, sambil berdoa, "Wahai Tuhan kami, tolonglah kami melawan musuh-musuh-Mu, wahai Zat yang Maha Penolong orang-orang yang minta tolong, tolonglah kami." Yang dimaksudkan adalah mengingatkan mereka kepada nikmat Allah SWT terhadap mereka yang telah mendengar doa mereka agar mereka bersyukur dan mengetahui betapa besarnya karunia dan rahmat Allah SWT terhadap mereka.
Lalu Ia memperkenankan (doa) kamu. Artinya, Dia menjawab doa kamu dengan mengatakan, 'Aku akan membantu kamu dengan seribu malaikat secara berturut-turut," maksudnya sebagian mengiringi yang lain, sebagian datang pertama lalu diikuti oleh yang lain, dan begitulah seterusnya para malaikat itu datang silih berganti. Pertama kali datang satu rombongan kemudian taklama setelah itu datang pula yang lain sehingga jumlah mereka seluruhnya menjadi tiga ribu lalu bertambah menjadi lima ribu sebagaimana Allah SWT berfirman dalam suroh Ali'lmron ayat 124-125:
اِذْ تَقُوْلُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ اَلَنْ يَّكْفِيَكُمْ اَنْ يُّمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلٰثَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُنْزَلِيْنَۗ
(Ingatlah), ketika engkau (Muhammad) mengatakan kepada orang-orang beriman, “Apakah tidak cukup bagimu bahwa Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?”
بَلٰٓى ۙاِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا وَيَأْتُوْكُمْ مِّنْ فَوْرِهِمْ هٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ اٰلَافٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُسَوِّمِيْنَ
“Ya” (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.
Dan, tidaklah Allah jadikan pengiriman para malaikat itu dan memberitahukanmu dengan semua itu melainkan sebagai sebuah kabar gembira bagi kamu bahwa kamu pasti akan menang dan agar hatimu menjadi tenang dan damai dari segala keresahan yang meliputi jiwamu, karena sesungguhnya Dia mampu untuk menolongmu melawan musuhmusuhmu secara langsung (tanpa perantara malaikat, pent) Pertolongan yang hakiki dalam sebuah peperangan tidak datang kecuali dari Allah, bukan dari para malaikat ataupun faktor-faktor materi yang kasat mata lainnya. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa dan tidak akan pernah terkalahkan juga Mahabijaksana yang tidak akan meletakkan sesuatu di selain tempatnya, sebagaimana firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim surat Muhammad ayat 4:
فَاِذَا لَقِيْتُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَضَرْبَ الرِّقَابِۗ حَتّٰٓى اِذَآ اَثْخَنْتُمُوْهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَۖ فَاِمَّا مَنًّاۢ بَعْدُ وَاِمَّا فِدَاۤءً حَتّٰى تَضَعَ الْحَرْبُ اَوْزَارَهَا ەۛ ذٰلِكَ ۛ وَلَوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلٰكِنْ لِّيَبْلُوَا۟ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍۗ وَالَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَلَنْ يُّضِلَّ اَعْمَالَهُمْ
Maka apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir (di medan perang), maka pukullah batang leher mereka. Selanjutnya apabila kamu telah mengalahkan mereka, tawanlah mereka, dan setelah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang selesai. Demikianlah, dan sekiranya Allah menghendaki niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji kamu satu sama lain. Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak menyia-nyiakan amal mereka.
Apakah para malaikat itu benar-benar ikut perang secara langsung? Sebagian ulama berpendapat bahwa para malaikat tidak berperang secara langsung. Mereka hanya menjadi penguat secara spritual bagi kaum Muslimin. Mereka memperbanyak jumlah kaum Muslimin dan meneguhkan hati mereka. Karena sebenarnya satu malaikat saja sudah cukup untuk membinasakan seluruh penduduk dunia. Malaikat Jibril misalnya, dengan satu helai bulu dari sayapnya bisa membinasakan kota Madain tempat tinggal kaum Nabi Luth. Ia juga mampu membinasakan negeri Tsamud negeri kaum Nabi Shaleh a.s. hanya dengan satu teriakan saja. Pendapat ini dipegang oleh Syekh Muhammad Abduh dan madrosahnya.
Sementara itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa pada Perang Badar malakat Jibril turun dengan lima ratus malaikat sayap kanan pasukan, di sana ada sayyidina Abu Bakar Ash-shidiq, sementara malaikat Mikail turun bersama lima ratus yang lain di sayap kiri, di sana ada sayidina 'Ali bin Abu Tholib. Mereka turun dalam bentuk laki-laki yang berpakaian putih dan bersorban putih. Mereka mengulurkan sorban itu sampai ke bahu mereka, lalu mereka berperang. Inilah pendapat yang lebih masyhur yang diriwayatkan dari lbnu Abbas, ia berkata, 'Allah S.W.T membantu Nabi-Nya S.A.W. dan orang-orang beriman dengan seribu malaikat. Malaikat Jibril datang dengan lima ratus dari mereka di salah satu sayap, sementara Malaikat Mikail dengan lima ratus lagi di sayap yang lain." Ini juga pendapat yang lebih kuat dan didukung oleh riwayat-riwayat yang shohih.
Imam Ibnu Jarir dan Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas dari Umar, hadits yang disebutkan di atas. Ada juga hadits-hadits lain yang diriwayatkan berkenaan dengan hal ini. Kalau bukan karena hadits-hadits tersebut, tentu pendapat pertama yang lebih bisa diterima.
Abu Jahal berkata kepada Ibnu Mas'ud, "Dari mana datangnya suara yang kami dengar di Perang Badar; padahal kami tidak melihat siapa-siapa?" Ibnu Mas'ud menjawab, "ltu adalah suara para malaikat." Mendengar hal itu Abu Jahal berkata, "Mereka yang mengalahkan kami, bukan kalian."
Sudah hal yang disepakati para ulama bahwa para malaikat tidak ikut berperang dalam Perang Uhud karena Allah SWT menjanjikan kemenangan kepada kaum Muslimin tetapi tergantung kepada sabar dan taqwa mereka, namun mereka tidak memenuhi syarat tersebut.
Keikutsertaan para malaikat bersama orang-orang beriman tentunya tidak mengecilkan urgensi kewajiban yang mesti dilaksanakan oleh mereka dalam peperangan dalam bentuk yang paling sempurna dan terbaik karena mereka berperang secara mati-matian yang layak untuk dihargai. Dalam sebuah hadits shohihain, Rosulullah S.A.W. bersabda kepada Umar ketika Umar minta izin kepada Rosul untuk membunuh Hathib bin Abi Balta'ah:
اِنَّهُ قَدشَهِدَبَدْرًا, وَمَايُدْرِيْكَ لَعَلّ اللهُ قَدِاطَّلَعَ عَلَى اَهْل بَدْرٍ, فَقَالَ:اِعْلَمُوْامَاشِئْتُمْ فَقَدغَفَرْتُ لَكُمْ
 "Ia ikut dalam Perang Badar. Engkau tidak tahu, boleh jadi Allah telah melihat kepada ahli Badar lalu berfirman, "Lakukanlah apa yang kamu inginkan karena Aku telah mengampuni kalian." (HR Bukhari dan Muslim)
Dampak dari Perang Badar sangat berat dan hebat terhadap Quraisy, karena para pemimpin mereka banyak yang terbunuh oleh pedang, tombak dan tangan-tangan pemuda kaum Muslimin, padahal mereka (tokoh-tokoh Quraisy tersebut) adalah para jawara yang sangat terkenal. Itulah siksaan terhadap kekafiran dan pembangkangan mereka. Allah S.W.T menyiksa umat-umat terdahulu yang mendustai nabi-nabi mereka dengan siksaan yang mengenai seluruh umat yang mendustai tersebut, sebagaimana Allah membinasakan kaum Nabi Nuh dengan angin topan, kaum 'Ad dengan Dabur (angin yang sangat keras), kaum Tsamud dengan suara yang sangat keras, kaum Nabi Luth dengan dibalikkan dan ditimbunkannya tanah mereka kepada mereka dan dilempari dengan batu syijjiil dari neraka jahannam, kaum Syu'aib dengan hari zhullah (panas yang sangat mengerikan), dan Fir'aun beserta pengikutnya dengan tenggelam di lautan.
Nikmat pertama yang diingatkan Allah kepada kaum Muslimin di Perang Badar adalah membantu mereka dengan para malaikat. Kemudian, Allah mengingatkan mereka dengan dua nikmat yang lain, yaitu diberikannya mereka rasa kantuk dan diturunkannya hujan pada mereka. Allah berfirman dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 11:

اِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَاسَ اَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْاَقْدَامَۗ

(Ingatlah), ketika Allah membuat kamu mengantuk untuk memberi ketenteraman dari-Nya, dan Allah menurunkan air (hujan) dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan (hujan) itu dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu dan untuk menguatkan hatimu serta memperteguh telapak kakimu (teguh pendirian).11
Maksudnya, ingatlah nikmat yang telah diturunkan Allah padamu berupa rasa kantuk sehingga rasa kantuk itu menyelimutimu seperti selimut untuk memberi rasa aman padamu dari rasa takut yang menyergap jiwamu ketika melihat jumlah mereka yang banyak dan jumlahmu yang sedikit. Allah SWT melepaskan kaum Muslimin dari kelelahan perjalanan. Siapa yang dikuasai rasa kantuh niscaya tidak akan merasakan takut sama sekali dan ia bisa istirahat serta mengembalikan semangat dan tenaganya. Imam Al-Baihaqi dalam kitab Ad-Dalail meriwayatkan dari Ali r.a., ia berkata, "Tak ada seorang pun jawara perang di antara kami di Perang Badar selain Al-Miqdad. Sungguh aku melihat kondisi kami saat itu, semuanya tertidur, kecuali Rosulullah S.A.W yang sholat di bawah sebuah pohon sampai pagi."
Rasa kantuk itu terjadi di malam sebelum perang keesokan harinya. Peristiwa tidur yang di alami oleh kaum muslimin yang cukup banyak itu dalam kondisi yang sangat mencekam sekaligus merupakan sesuatu yang sangat ajaib dan luar biasa. Padahal, saat itu ada hal sangat penting yang menyibukkan mereka yaitu perang. Akan tetapi, Allah SWT telah mengikat hati mereka.
Imam Al-Mawardi berkata, 'Ada dua pengertian dari penyebutan nikmatAllah yang ada pada mereka berupa tidur pada malam tersebut. Pertama, Allah SWT menguatkan mereka dengan istirahat pada malam itu untuk berperang keesokan harinya. Kedua, bahwa Allah SWT memberi mereka rasa aman dengan sirnanya rasa takut dari hati mereka sebagaimana dikatakan bahwa rasa aman itu akan membuat tidur sementara rasa takut akan membuat tidak bisa tidur.
Demikian juga, Allah SWT melakukan hal yang sama dengan memberikan mereka rasa kantuk dalam Perang Uhud sebagaimana Allah S.W.T berfirman dalam Al-Qur'anul Karim surat Ali 'Imron ayat 154:
ثُمَّ اَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ الْغَمِّ اَمَنَةً نُّعَاسًا يَّغْشٰى طَۤاىِٕفَةً مِّنْكُمْ ۙ وَطَۤاىِٕفَةٌ قَدْ اَهَمَّتْهُمْ اَنْفُسُهُمْ يَظُنُّوْنَ بِاللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ ۗ يَقُوْلُوْنَ هَلْ لَّنَا مِنَ الْاَمْرِ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ اِنَّ الْاَمْرَ كُلَّهٗ لِلّٰهِ ۗ يُخْفُوْنَ فِيْٓ اَنْفُسِهِمْ مَّا لَا يُبْدُوْنَ لَكَ ۗ يَقُوْلُوْنَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْاَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هٰهُنَا ۗ قُلْ لَّوْ كُنْتُمْ فِيْ بُيُوْتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِيْنَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ اِلٰى مَضَاجِعِهِمْ ۚ وَلِيَبْتَلِيَ اللّٰهُ مَا فِيْ صُدُوْرِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ
Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan, Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata, “Adakah sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini?” Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya segala urusan itu di tangan Allah.” Mereka menyembunyikan dalam hatinya apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. Mereka berkata, “Sekiranya ada sesuatu yang dapat kita perbuat dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini.” Katakanlah (Muhammad), “Meskipun kamu ada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Dan Allah Maha Mengetahui isi hati.
Allah SWT juga menurunkan padamu hujan dari langit untuk menyucikanmu dari hadats dan junub, serta menghilangkan darimu kecemasan dari setan dan kekhawatiran terhadap rasa haus yang dibisikkannya. Ada pendapat yang mengatakan bahwa maknanya Allah hilangkan junub yang menimpa sebagian kamu karena pengkhayalan yang datang dari setan.
Secara tekstual, ayat menunjukkan bahwa rasa kantuk itu terjadi sebelum hujan turun, yaitu pada malam tujuh belas Romadlon. Sedangkan Mujahid dan Ibnu Abi Najih berpendapat bahwa hujan turun sebelum rasa kantuk datang.
Sebab diturunkannya hujan adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Al-Mundzir melalui sanad Ibnu Jarir Ath-Thobari dari Ibnu Abbas bahwa kaum musyrikin pada awalnya mendominasi air sehingga kaum Muslimin menjadi kehausan. Mereka salat dalam keadaan junub dan berhadats. Di sekitar mereka hanya terdapat pasir. Kemudian setan memasukkan rasa gundah dan sedih ke dalam hati mereka. Setan berkata, "Kalian mengklaim bahwa di antara kalian ada seorang Nabi dan kalian adalah kekasih-kekasih Allah, namun kalian shalat dalam keadaan junub dan berhadats." Allah menurunkan air dari langit dan mengalirlah air seperti sungai kepada kaum Muslimin. Mereka kemudian minum dan bersuci. Kaki mereka menjadi kukuh berdiri di pasir yang keras itu dan hilanglah kecemasan dalam hati mereka. Dlomir (kata ganti) dalam kata ("بِهِ ")dengannya" merujuk kepada air atau hujan.
Rosulullah S.A.W bersama para sahabatnya segera menguasai air yang terkumpul dari air hujan. Mereka berkemah di dekat daerah air tersebut dan membuat kolam-kolam. Kemudian mereka gali sumber-sumber air lainnya. Para sohabat membangun sebuah kemah kecil di pinggir medan peperangan. Ini yang dijelaskan oleh riwayatyaitu bahwa kaum musyrikin telah didahului kaum Muslimin untuk berkumpul di daerah sekitar air dalam Perang Badar.
Riwayat yang terkenal adalah riwayat Ibnu Ishaq dalam sirahnya dan yang diikuti oleh Ibnu Hisyam dalam kitab sirahnya juga bahwa ketika tiba di daerah Badar, Rosulullah saw. berhenti di daerah air terdekat. Maksudnya, ia berkemah di sumur air terdekat yang dijumpainya. Al-Hubab bin Mundzir datang menemui Rosulullah S.A.W Ia berkata, "Wahai Rosulullah, mengenai tempat ini, apakah ini tempat yang telah ditentukan oleh Allah untukmu, sehingga kita kita tidak bisa maju lagi atau mundur atau ia hanya sebuah gagasan dan taktik perang?" Rosulullah saw. Menjawab, "lni hanya sebuah ide dan taktik perang." Al-Hubab melanjutkan, "Wahai Rosulullah, ini bukan tempat yang tepat. Mari kita pindah dan menuju sumber air yang paling dekat dengan musuh,lalu kita berkemah di sana dan kita gali sumber-sumber air di sekitarnya kemudian kita buat kolam dan kita penuhi dengan air. Setelah itu baru kita memerangi musuh-musuh kita sehingga kita bisa minum sementara mereka tidak." Mendengar hal itu Rosulullah saw bersabda, "Bagus sekali gagasanmu 'Lalu mereka melaksanakan seperti yang diusulkan oleh Al-Hubab.
Ibnu Katsir berkata, Riwayat yang lebih baik dari ini adalah yang diriwayatkan oleh Imam Muhammad bin Ishaq pengarang kitab Al-Maghozi, dari Urwah bin Zubair ia berkata, 'Allah SWT menurunkan hujan. Sebelumnya daerah yang ditempati kaum Muslimin adalah berupa dahs (pasir yang membuat kaki tenggelam ketika berjalan di atasnya) Hujan yang turun pada Rosulullah S.A.W. dan para sahabatnya membuat tanah semakin keras sehingga mereka tidak terhalang untuk terus bergerak, sementara hujan yang menimpa Quroisy membuat mereka tidak bisa bergerak dengan leluasa."
Kami berpendapat bahwa nash ayat Al-Qur'an sejalan dengan riwayat yang dipandang baik oleh Ibnu Katsir dan yang juga dipakai oleh mayoritas ahli tafsir seperti Ath-Thobari, Zamakhsyari, Ar-Rozi dan lain-lain. Al-Baidlowi juga menyebutkan sebuah riwayat yang mendukung hal tersebut. Ia berkata, "Diriwayatkan bahwa kaum Muslimin berkemah di daerah yang lembek yang membuat kaki terperosok serta tidak ada air. Ketika mereka tidur, sebagian besar di antara mereka bermimpi (yang membuat mereka wajib mandi). Sementara itu, kaum musyrikin menguasai daerah yang berair. Setan pun memasukkan kecemasannya terhadap kaum Muslimin. Ia berkata, "Bagaimana mungkin kalian akan menang, sementara kalian telah kalah untuk mendapatkan tempat yang berair. Sekarang saja kalian salat dalam keadaan berhadats dan junub lalu kalian menganggap diri kalian sebagai wali-wali Allah dan RosulNya ada bersama kalian?" Mereka menjadi sangat sedih dan gundah dengan kondisi yang mereka alami. Kemudian, Allah menurunkan hujan. Hujan turun pada mereka di malam hari, sampai-sampai hujan itu meyebabkan munculnya lembah-lembah sungai. Mereka kemudian membuat kolam-kolam di pinggir lembah-lembah itu. Mereka beri minum kudakuda mereka. Mereka mandi dan berwudlu. Pasir yang terdapat antara mereka dan musuh menjadi keras sehingga kaki-kaki mereka bisa kukuh ketika berjalan dan semua kecemasan setan itu hilang."
Kemudian, Al-Baidlowi menyebutkan pengertian dari firman Allah S.W.T, وَلِيَرْبِطَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ yaitu dengan cara percaya kepada kasih sayang Allah pada mereka, وَيُثَبِّتَ بِهِ الْاَقْدَامَۗ yaitu dengan diturunkannya hujan sehingga kaki mereka tidak terperosok ke dalam pasir atau dengan mengukuhkan hati mereka sehingga kuat dan berani dalam peperangan. Pendapat yang paling benar adalah yang disebutkan oleh Al-Qurthubi dari Ibnu Ishaq dalam sirah-nya dan ulama lainnya. Pendapat ini yang bisa mengompromikan berbagai riwayat bahwa berbagai kondisi yang diikuti oleh turunnya hujan teriadi sebelum mereka sampai ke Badar.(Tafsir al-Qurthubi 7 /373).
Nikmat lain yang juga disebutkan kepada orang-orang beriman dalam Perang Badar adalah sebuah nikmat yang tidak terlihat dan Allah S.W.T nyatakan pada mereka agar mereka syukuri, yaitu pengilhaman Allah kepada para malaikat bahwa Dia bersama mereka, kebersamaan membantu, menolong, dan meneguhkan. Dia berfirman, اِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 12:
اِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ اِلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ اَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ سَاُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوْا فَوْقَ الْاَعْنَاقِ وَاضْرِبُوْا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍۗ
Maksudnya, ingatlah ketika Allah SWT mewahyukan kepada para malaikat bahwa Dia bersama mereka ketika Dia mengutus mereka (para malaikat itu) sebagai bantuan untuk kaum Muslimin atau Dia mewahyukan kepada para malaikat bahwa 'Aku bersama orangorang yang beriman maka tolonglah dan kukuhkan mereka." Ar-Rozi berkata, "Tafsir kedua ini lebih baik karena yang dituju dari firman ini adalah untuk menghilangkan rasa takut, sementara para malaikat tidak pernah takut pada kaum kafir. Yang takut itu adalah kaum Muslimin."(Tafsir ar-Razi tS /135).
Yang dimaksud dengan'kebersamaan' dalam ayat ini adalah kebersamaan pertolongan, bantuan, dan peneguhan pada saatsaat yang berat dalam perang. Mereka (para malaikat) meneguhkan hati orang-orang beriman, menguatkan semangat mereka, mengingatkan mereka kepada janji Allah bahwa Dia pasti akan menolong Rosul-Nya dan orang-orang yang beriman, dan Allah SWT tidak akan pernah melanggar janji. Ada pendapat yang mengatakan bahwa para malaikat itu datang menyerupai laki-laki yang sudah dikenal orang-orang beriman. Mereka membantu kaum Muslimin untuk menang dalam peperangan tersebut.
Al-Baihaqi meriwayatkan dalam kitab Ad-Dalail bahwa malaikat itu datang pada seorang Muslim dalam bentuk orang yang dikenalnya, lalu ia berkata, "Bergembiralah karena mereka fkaum kafir) tidak ada apa-apanya. Allah SWT bersamamu, seranglah mereka kembali."
Pengertian ketiga tentang makna 'peneguhan' di sini diriwayatkan dari Az-Zajjaj yaitu malaikat memiliki kemampuan untuk memasukkan kebaikan yaitu ilham sebagaimana halnya setan memiliki kemampuan untuk memasukkan keburukan yaitu kecemasan.
Kemudian, Allah SWT menyebutkan apa yang dimaksud dengan firman-Nya اَنِّيْ مَعَكُمْ dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 12:
اِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ اِلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ اَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ سَاُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوْا فَوْقَ الْاَعْنَاقِ وَاضْرِبُوْا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍۗ
yaitu bahwa Aku bersamamu dalam membantumu dengan memasukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir. Jadi, di antara nikmat terbesar Allah S.W.T kepada orangorang beriman adalah ditanamkannya rasa takut dan kecut ke dalam jiwa orang-orang kafir. Dengan demikian, pukul dan potonglah kepala mereka yang di atas leher. potong juga leher mereka dan jari-jari mereka yaitu jari-jari tangan dan kaki. Artinya Allah S.W.T memerintahkan mereka untuk memukul bagian tubuh yang mematikan dan yang tidak mematikan.
Kemudian, Allah SWT menjelaskan sebab Dia membantu dan menguatkan orang-orang beriman. Dia berfirman ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ شَاۤقُّوا dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 13:
ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ شَاۤقُّوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۚ وَمَنْ يُّشَاقِقِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Artinya, bantuan dan penguatan Allah S.W.T terhadap Nabi dan orang-orang beriman itu adalah karena orang-orang musyrik telah mendurhakai Allah S.W.T dan Rosul-Nya. Mereka telah memusuhi dan menentang Allah S.W.T dan Rosul-Nya. Mereka berjalan di satu arah lalu mereka tinggalkan syari'at, iman kepada syari'at, dan mengikuti syari'at di arah yang lain.
وَمَنْ يُّشَاقِقِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ artinya barang siapa yang melawan perintah Allah S.W.T dan Rosul-Nya serta memusuhi keduanya selain kekalahan dan kehinaan di dunia, ia juga akan mendapatkan adzab yang keras di akhirat. Itulah adzab yang Aku segerakan untuk kalian wahai orang-orang kafir yang menentang Allah dan Rosul-Nya di dunia berupa kehinaan dan kekalahan serta segala hal yang mengikutinya seperti terbunuh dan tertawan, rasakanlah oleh kalian sekarang juga. Kalian juga akan mendapat adzab jahannam di akhirat nanti jika kalian tetap saja berada dalam kekafiran.
Digunakan kata-kata الذَّوْقُ yang berarti mencicipi sedikit makanan guna mengetahui rasanya secara keseluruhan untuk menunjukkan kepedihan dan adzab yang disegerakan untuk mereka di dunia. Ini adalah sebagai bentuk kiasan bahwa yang dirasakan di dunia ini adalah ibarat mencicipi sedikit adzab jika dibandingkan dengan adzab maha dahsyat yang disediakan untuk mereka di akhirat nanti.
Fiqih Hukum Dan Kehidupan
Ayat-ayat di atas menunjukkan tiga hal; mengingatkan beberapa nikmat, mengajarkan cara membunuh, dan adzab bagi orang yang mendurhakai atau memusuhi Allah S.W.T dan Rosul-Nya.
Nikmat-nikmat yang disebutkan dan yang ingin Allah S.W.T ingatkan dalam perang Badar ada tujuh;
Pertama,pertolongan ketika diminta, yaitu dengan turunnya malaikat yang membantu mereka dalam peperangan. Tidak ada kontradiksi antara penyebutan jumlah malaikat dalam surah ini (seribu malaikat) dan dalam surah Ali 'lmron (tiga ribu sampai lima ribu malaikat), karena Allah SWT mengirimkan bantuan itu secara berturut-turut. Dia mengirimkan pertama kali seribu malaikat, kemudian tiga ribu,lalu lima ribu ketika kaum Muslimin berperisaikan dengan kesabaran dan ketaqwaan.
Kedua, memberikan rasa kantuk dan tidur di malam sebelum terjadi peperangan.
Ketiga, hujan diturunkan dari langit untuk bersuci secara lahir dengan cara membersihkan badan, berwudlu, dan mandi dari junub, serta bersuci secara batin dengan dihilangkannya kecemasan setan dari dalam diri orang-orang beriman.
Keempat, mengikat hati orang-orang beriman. Artinya, menguatkannya dan menghilangkan ketakutan dan kekhawatiran dari mereka, memenuhi jiwa mereka dengan rasa sabar dan menyemangati mereka untuk menghadapi dan memerangi musuh-musuh mereka.
Kelima, mengukuhkan kaki di atas pasir yang telah saling menyatu akibat hujan. Dari hal ini bisa dipahami bahwa kondisi para musuh berbeda dengan hal itu.
Keenam,wahyu kepada malaikat bahwa Allah S.W.T bersama orang-orang beriman, bantu dan kukuhkanlah mereka.
Ketujuh, memasukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir. Ini merupakan nikmat yang sangat besar yang diberikan Allah S.W.T kepada orang-orang beriman.
Sementara itu, cara untuk membunuh, Allah S.W.T memerintahkan kaum Mukminin untuk membunuh orang-orang kafir tepat pada bagian tubuh mereka yang mematikan dengan cara memukul ubun-ubun dan kepala mereka yang terletak di atas leher serta memukul bagian tubuh yang tidak mematikan dengan memotong jari-jari tangan dan kaki karena jari adalah alat untuk memegang pedang, tombah dan senjata-senjata lainnya. Jadi, apabila jarijari mereka telah dipotong, mereka tidak bisa untuk berperang lagi.
Adzab bagi orang yang mendurhakai dan menentang Allah dan Rosul-Nya adalah kehinaan dan kekalahan di dunia serta adzab yang sangat berat di neraka jahannam di hari Kiamat kelak. Tujuan penyebutan adzab ini adalah sebagai ancaman terhadap kekafiran dan pencelaan orang-orang kafir karena siksaan terhadap kekafiran itu dua macam; ada yang disegerakan di dunia dan ada yang ditangguhkan di akhirat.
Keutamaan dan kelebihan pejuang Badar bukan karena tubuh mereka, melainkan karena perbuatan mereka. Imam Malik berkata, 'Ada riwayat yang sampai padaku bahwa Jibril a.s. berkata kepada Nabi S.A.W, Bagaimana posisi pejuang Badar di kalangan kalian? Nabi S.A.W. bersabda, "Mereka adalah orang-orang terbaik di antara kami." Jibril berkata, "Mereka iuga demikian dalam pandangan kami." Jadi, hal itu adalah karena jihad mereka dan jihad yang paling utama adalah Perang Badar karena bangunan Islam seluruhnya bergantung kepada perang tersebut.
Islam mewajibkan untuk menguburkan jasad orang-orang yang terbunuh meskipun mereka adalah para musuh. Nabi S.A.W. memerintahkan para sahabat untuk menguburkan orang-orang musyrik yang mati di Perang Badar sejumlah tujuh puluh orang di dalam sebuah telaga kuno yang ada di sekitar Badar.
Imam Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Rosulullah saw. membiarkan korban Perang Badar dari kalangan musuh selama tiga hari. Setelah itu ia berdiri di dekat bangkai mereka dan menyeru, "Wahai Abu Jahal bin Hisyam, wahai Umayyah bin Kholaf, wahai Utbah bin Robi'ah, wahai Syaibah bin Robi'ah, tidakkah telah kalian dapatkan apa yang telah dijanjikan Tuhan kalian sesuatu yang benar? Aku sudah mendapatkan apa yang telah dijanjikan Tuhanku sebagai sesuatu yang benar."
Umar mendengar seruan Nabi S.A.W. kepada mereka, lalu ia berkata, "Wahai Rosulullah, bagaimana mungkin mereka akan mendengar bagaimana mungkin mereka akan menjawab sementara mereka telah meniadi bangkai dan membusuk (Umar mengatakan hal ini karena sesuai hukum adat kebiasaan hal tersebut sangat tidak mungkin, Nabi S.A.W menjawab, mereka bisa mendengar sebagaimana halnya orang hidup)?" Nabi saw. menjawab, "Demi Dzat yang jiwaku dalam genggaman-Nya, kalian tidak lebih bisa mendengar apa yang aku serukan daripada mereka, akan tetapi mereka tidak mampu menjawabnya." Kemudian, Nabi saw. memerintahkan untuk menarik jasad mereka lalu dilemparkan parit di Badar.
Al-Qurthubi berkata, bahwa kematian itu tidak ke dalam sebuah "lni menunjukkan berarti ketiadaan atau fana. Ia hanya terputus dan terpisahnya hubungan ruh dengan badan dan berganti kondisi serta perpindahan dari sebuah alam ke alam yang lain. Rasulullah saw. bersabda,
اِنَّ الْمَييِّتَ اِذَاوُضِعَ فِى قَبْرِه وَتَوَلَّى عَنْهُ اَصْحَابُهُ اِنَّه لَيَسْمَعُ قَرْعَ نِعَلِهِمْ
"Sesungguhnya ketika mayat diletakkan di kuburnya dan orang-orang yang mengantarnya telah pulang ia akan mendengar suara sandal mereka." (Hadits shahih) (Tafsir al-QurthubiT /377)