DAKWAH APOLOGET ISLAM

AMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR

Selasa, 24 Desember 2024

SIROH NABI MUHAMMAD S.A.W

 SIROH NABAWIYYAH

(KARANGAN DR. SYAKH MUHAMMAD SA'ID ROMADLON AL-BUTHI)

BAGIAN 1

MUQODDIMAH

Pentingnya Siroh Nabawiyyah Untuk Memahami Islam

Tujuan mengkaji Siroh Nabawiyyah bukan sekedar untuk mengetahui peristiwa-peristiwa sejarah yang mengungkapkan kisah-kisah dan kasus yang menarik. karena itu, tidak sepatutnya kita menganggap kajian fiqih Siroh Nabawiyyah termasuk sejarah, sebagaimana kajian tentang sejarah hidup salah seorang Kholifah, atau sesuatu periode sejarah yang telah silam.

Tujuan mengkaji Siroh Nabawiyyah adalah agar setiap Muslim memperoleh gambaran tentang haqiqot Islam secara paripurna, yang tercermin di dalam kehidupan Nabi Muhammad S.A.W, sesudah ia pahami secara konseptional sebagai prinsip, kaidah dan hukum. Kajian Siroh Nabawiyyah hanya merupakan upaya aplikatif yang bertujuan memperjelas haqiqot Islam secara utuh dalam keteladanannya yang tertinggi, Muhammad S.A.W.

Bila kita rinci, maka dapat di batasi dalam beberapa sasaran berikut ini:

1. Memahami pribadi kenabian Rosulullah S.A.W melalui celah-celah kehidupan dan kondisi-kondisi yang pernah di hadapinya, untuk menegaskan bahwa Rosulullah S.A.W bukan hanya seorang yang terkenal genial di antara kaumnya, tetapi sebelum itu beliau adalah seorang Rosul yang di dukung oleh Allah S.W.T dengan wahyu dan taufiq dari-NYA.

2. Agar menusia mendapatkan gambaran Al-Matsalul A'la (type ideal) menyangkut seluruh aspek kehidupan yang utama untuk di jadikan undang-undang dan pedoman kehidupan. Tidak di ragukan lagi betapapun manusia mencari Matsalul A'la (type ideal) mengenai salah satu aspek kehidupan, dia pasti akan mendapatkan di dalam kehidupan Rosulullah S.A.W secara jelas dan sempurna. Karena itu Allah S.W.T menjadikan qudwah  bagi seluruh manusia. Firman Allah S.W.T dalam Al-Qur'anul Karim Surat Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًاۗ

Sungguh, telah ada pada (diri) Rosulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.

3. Agar manusia mendapatkan dalam mengkaji Siroh Nabawiyyah ini sesuatu yang dapat membawanya untuk memahami kitab Allah S.W.T dan semangat tujuanya. Sebab, banyak ayat-ayat Al-Qur'an yang baru bisa di tafsirkan dan di jelaskan maksudnya melalui peristiwa-peristiwa yang pernah di hadapai Rosulullah S.A.W dan di sikapinya.
4. Melalui kajian Siroh Rosulullah S.A.W ini seorang muslim dapat mengumpulkansekian banyak tsaqofah dan pengetahuan Islam yang benar, baik menyangkut aqidah, hukum ataupun akhlaq. Sebab tak di ragukan lagi bahwa kehidupan Rosulullah S.A.W merupakan gambaran yang konkrit dari sejumlah prinsip dan hukum Islam.
5. Agar setiap pembina dan da'i Islam memiliki contoh hidup menyangkut cara-cara peinaan dan dakwah. Adalah Rosulullah S.A.W seorang da'i pemberi nasihat dan pembina yang baik, yang tidak segan-segan mencari cara-cara pembinaan yang pendidikan terbaik selama beberapa periode dakwahnya.
Di antara hal itu terpenting yang menjadikan Siroh Rosulullah S.A.W cukup untuk memenuhi semua sasaran ini adalah bahwa seluruh kehidupan beliau mencakup seluruh aspek sosial dan kemanusiaan yang ada pada manusia, baik sebagai pribadi ataupun sebagai anggota masyarakat yang aktif.
kehidupan Rosulullah S.A.W memberikan kepada kita contoh-contoh mulia, baik sebagai pemuda Islam yang lurus prilakunya dan terpercaya di antara kaum dan juga kerabatnya, ataupun sebagai da'i kepada Allah S.W.T dengan hikmah dan nasihat yang baik, yang mengerahkan segala kemampuan untuk menyampaikan risalahnya. Juga sebagai kepala negara yang mengatur segala urusan dengan cerdas dan bijaksana, sebagai suami teladan dan seorang ayah yang penuh kasih sayang, sebagai panglima perang yang mahir, sebagai negarawan yang pandai dan jujur, dan sebagai Muslim secara keseluruhan (kaaffah) yang dapat melakukan secara imbang antara kewajiban beriadah kepada Allah S.W.T dan bergaul dengan keluarga dan sahabatnya dengan baik.
Maka kajian Siroh Nabawiyyah tidak lain hanya menampakkan aspek-aspek kemanusiaan ini secara keseluruhan yang tercermin dalam suri tauladan yang paling sempurna dan terbaik.
Sumber-Sumber Siroh Nabawiyyah
Secara umum dapat di sebutkan di sini bahwa sumber-sumber dan rujukan Siroh Nabawiyyah ada tiga, yaitu: Kitab Allah S.W.T, Sunnah Nabawiyyah yang shohih, dan kitab-kitab siroh.
Pertama : Kitab Allah S.W.T
Kitab Allah S.W.T merupakan rujukan pertama untuk memahami sifat-sifat umum Rosulullah S.A.W dan mengenal tahapan-tahapan umum dari Sirohnya yang mulia ini. Ia mengemukakan Siroh Nabawiyyah dengan menggunakan salah satu dari dua uslub:
-Pertama : Mengemukakan sebagai kejadia dari kehidupan dan Sirohnya, seperti ayat-ayat yang menjelaskan tentang perang Badar, Uhud, Khondaq, dan Hunain, serta ayat-ayat yang mengisahkan perkawinan dengan Zaenab Binti Jahsyi.
Perang Badar : 
1.  Al-Qur'anul Karim surat Ali 'Imron ayat 123
وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّٰهُ بِبَدْرٍ وَّاَنْتُمْ اَذِلَّةٌ ۚ فَاتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
Dan sungguh, Allah telah menolong kamu dalam perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukuri-Nya.
2. Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 9
اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَلْفٍ مِّنَ الْمَلٰۤىِٕكَةِ مُرْدِفِيْنَ
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, “Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
2. Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 12
اِذْ يُوْحِيْ رَبُّكَ اِلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ اَنِّيْ مَعَكُمْ فَثَبِّتُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْاۗ سَاُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ فَاضْرِبُوْا فَوْقَ الْاَعْنَاقِ وَاضْرِبُوْا مِنْهُمْ كُلَّ بَنَانٍۗ
(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.” Kelak akan Aku berikan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka pukullah di atas leher mereka dan pukullah tiap-tiap ujung jari mereka.
Perang Uhud : 
1.  Al-Qur'anul Karim surat Ali 'Imron ayat 121
وَاِذْ غَدَوْتَ مِنْ اَهْلِكَ تُبَوِّئُ الْمُؤْمِنِيْنَ مَقَاعِدَ لِلْقِتَالِ ۗ وَاللهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۙ
Dan (ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berangkat pada pagi hari meninggalkan keluargamu untuk mengatur orang-orang beriman pada pos-pos pertempuran. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.
2.  Al-Qur'anul Karim surat Ali 'Imron ayat 140
اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗ ۗوَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ اللهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاۤءَ ۗوَاللهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَۙ
Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim,
3.  Al-Qur'anul Karim surat Ali 'Imron ayat 141
وَلِيُمَحِّصَ اللهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَمْحَقَ الْكٰفِرِيْنَ
dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang kafir.
4.  Al-Qur'anul Karim surat Ali 'Imron ayat 166
وَمَآ اَصَابَكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِ فَبِاِذْنِ اللهِ وَلِيَعْلَمَ الْمُؤْمِنِيْنَۙ
Dan apa yang menimpa kamu ketika terjadi pertemuan (pertempuran) antara dua pasukan itu adalah dengan izin Allah, dan agar Allah menguji siapa orang (yang benar-benar) beriman.
5.  Al-Qur'anul Karim surat Ali 'Imron ayat 167
وَلِيَعْلَمَ الَّذِيْنَ نَافَقُوْا ۖوَقِيْلَ لَهُمْ تَعَالَوْا قَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ اَوِ ادْفَعُوْا ۗ قَالُوْا لَوْ نَعْلَمُ قِتَالًا لَّاتَّبَعْنٰكُمْ ۗ هُمْ لِلْكُفْرِ يَوْمَىِٕذٍ اَقْرَبُ مِنْهُمْ لِلْاِيْمَانِ ۚ يَقُوْلُوْنَ بِاَفْوَاهِهِمْ مَّا لَيْسَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ ۗ وَاللهُ اَعْلَمُ بِمَا يَكْتُمُوْنَۚ
Dan untuk menguji orang-orang yang munafik, kepada mereka dikatakan, “Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu).” Mereka berkata, “Sekiranya kami mengetahui (bagaimana cara) berperang, tentulah kami mengikuti kamu.” Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dari pada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak sesuai dengan isi hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan.
6.  Al-Qur'anul Karim surat Al-Anfal ayat 36
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوْا عَنْ سَبِيْلِ اللهِ ۗفَسَيُنْفِقُوْنَهَا ثُمَّ تَكُوْنُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُوْنَ ەۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِلٰى جَهَنَّمَ يُحْشَرُوْنَۙ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menginfakkan harta mereka untuk menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan (terus) menginfakkan harta itu, kemudian mereka akan menyesal sendiri, dan akhirnya mereka akan dikalahkan. Ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang kafir itu akan dikumpulkan,
Perang Khondaq : 
1.  Al-Qur'anul Karim surat Al-Ahzab ayat 9
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ اِذْ جَاۤءَتْكُمْ جُنُوْدٌ فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيْحًا وَّجُنُوْدًا لَّمْ تَرَوْهَا ۗوَكَانَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرًاۚ
Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak dapat terlihat olehmu. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.
Perang Hunain : 
1.  Al-Qur'anul Karim surat At-Taubah ayat 25-26
لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللهُ فِيْ مَوَاطِنَ كَثِيْرَةٍۙ وَّيَوْمَ حُنَيْنٍۙ اِذْ اَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْـًٔا وَّضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْاَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُّدْبِرِيْنَۚ
Sungguh, Allah telah menolong kamu (mukminin) di banyak medan perang, dan (ingatlah) Perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu, tetapi (jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagimu, dan bumi yang luas itu terasa sempit bagimu, kemudian kamu berbalik ke belakang dan lari tunggang-langgang.
ثُمَّ اَنْزَلَ اللهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَعَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَاَنْزَلَ جُنُوْدًا لَّمْ تَرَوْهَا وَعَذَّبَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۗ وَذٰلِكَ جَزَاۤءُ الْكٰفِرِيْنَ
Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Dia menurunkan bala tentara (para malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menimpakan azab kepada orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-orang kafir.
Tentang Zaenab Binti Zahsyi : 
1.  Al-Qur'anul Karim surat Al-Ahzab ayat 37-38
وَاِذْ تَقُوْلُ لِلَّذِيْٓ اَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَنْعَمْتَ عَلَيْهِ اَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللهَ وَتُخْفِيْ فِيْ نَفْسِكَ مَا اللهُ مُبْدِيْهِ وَتَخْشَى النَّاسَۚ وَاللهُ اَحَقُّ اَنْ تَخْشٰىهُ ۗ فَلَمَّا قَضٰى زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًاۗ زَوَّجْنٰكَهَا لِكَيْ لَا يَكُوْنَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ حَرَجٌ فِيْٓ اَزْوَاجِ اَدْعِيَاۤىِٕهِمْ اِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًاۗ وَكَانَ اَمْرُ اللهِ مَفْعُوْلًا
Dan (ingatlah), ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya, “Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engkau takuti. Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab) agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi.
مَا كَانَ عَلَى النَّبِيِّ مِنْ حَرَجٍ فِيْمَا فَرَضَ اللهُ لَهٗ ۗسُنَّةَ اللهِ فِى الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۗوَكَانَ اَمْرُ اللهِ قَدَرًا مَّقْدُوْرًاۙ
Tidak ada keberatan apa pun pada Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah Allah pada nabi-nabi yang telah terdahulu. Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku,
-Kedua : Mengomentari kasus-kasus dan peristiwa-peristiwa yang terjadi untuk menjawab masalah-masalah yang timbul atau mengungkapkan masalah yang belum jelas, atau untuk menarik perhatian kaum Muslim kepada pelajaran dan nasihat yang terkandung di dalamnya. Semua itu berkaitan dengan salah satu aspek dari Sirahnya atau permasalahanya. Dengan demikian telah menjelaskan banyak hal mulia dari kehidupan berbagai perkara serta perbuatanya.
Tetapi pembicaraan Al-Qur'an tentang kesemuanya itu hanya di sampaikan secara terputus-putus. Betapapun beragamnya uslub Al-Qur'an dalam menjelaskan seri Sirohnya tetapi lebih hanya sekedar penjelasan secara umum dan penyakinan secara global dan sekilas kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu.
Kedua : Sunnah Nabawiyyah Yang Shohih
Yakni apa yang terkandung di dalam kitab-kitab para imam hadits yang terkenal jujur dan amanah. Seperti kitab-kitab enam, Muwatho Imam Malik, dan Musnad Imam Ahmad.Sumber kedua ini lebih luas dan rinci. Hanya saja belum tersusun secara urut dan sistematis dalam memberikan gambaran kehidupan Rosulullah S.A.W sejak lahir hingga wafat. Hal ini di sebabkan oleh dua hal:
-Pertama : Sebagian besae kitab-kitab ini di susun hadits-haditsnya berdasarkan bab-bab fiqih atau sesuai dengan satuan pembahasan yang berkaitan dengan syari'at Islam. Oleh karena itu hadits-hadits yang berkaitan dengan Sirohnya yang menjelaskan bagian dari kehidupannya terdapat pada berbagai tempat di antara semua bab yang ada.
-Kedua : Para Imam hadits, khushushnya penghimpun Al-Kutub As-Sittah, ketika mengumpulkan hadits-hadits Rosululah S.A.W tidak mencatat riwayat Sirohnya secara terpisah, tetapi hanya mencatat dalil-dalil syari'ah secara umum yang di perlukan.
Di antara keistimewaan sumber kedua ini ialah bahwa sebagian besar isinya di riwayatkan dengan sanad shohih yang bersambung kepada Rosulullah S.A.W, atau kepada para sahabat yang merupakan sumber khobar manqul, kendatipun anda temukan pula beberapa riwayat dho'if yang tidak bisa di jadikan hujjah.
Ketiga : Kitab-Kitab Siroh
Kajian-kajian kitab siroh di masa lalu di ambil dari riwayat-riwayat pada masa sahabat yang di sampaikan secara turun-temurun tanpa ada yang memperhatikan untuk menyusun atau menghimpunnya dalam suatu kitab, kendatipun sudah ada beberapa orang yang memperhatikan secara khushush Siroh Nabi S.A.W dengan rincian-rinciannya.
Baru pada generasi Tabi'in Siroh Rosulullah S.A.W di terima dengan penuh perhatian dengan banyaknya di antara mereka yang mulai menyusun data tentang Siroh Nabawiyyah yang di dapatkan dari lembaran-lembaran kertas. Di antara mereka ialah : Urwah Bin Zubair yang meninggal pada tahun 92 Hijriyyah, Aban Bin Utsman (105), Syurahbil Bin Sa'ad (123), Wahab Bin Munabbih (110) dan Ibnu Syaihab Az-Zauhri (wafat tahun 124 H).
Akan tetapi semua yang pernah mereka tulis sudah lenyap, tidak ada yang tersisa kecuali beberapa bagian yang sempat di riwayatkan oleh Imam Ath-Thobari. Ada yang mengatakan bahwa sebagian tulisan Wahab Bin Munabbih sampai sekarang masih tersimpan di Heiddelberg, Jerman.
Kemudian muncul generasi penyusun Siroh berikutnya. Tokoh generasi ini ialah Muhammad Ishhaq (152). Lalu di susun oleh generasi sesudahnya dengan tokohnya Al-Waqidi (203) dan Muhammad Bin Sa'ad, penyusun kitab Ath-Thobari Al-Kubro (130).
Tetapi Al-hamdulillah, sesudah Muhammad Bin Ishaq muncul Abu Muhammad Abdul Malik yang terkenal dengan Abi Hisyam. Ia meriwayatkan Siroh tersebut dengan berbagai penyempurnaan, setelah abad sesudah penyusun kitab Ibnu Ishhaq tersebut.
Kitab Siroh Nabawiyyah yang di nisbatkan kepada Ibnu Hisyam yang sekarang in hanya merupakan duplikat dari Maghozinnya Ibnu Ishhaq.
Ibnu Kholikan berkata : Ibnu Hisyam adalah orang yang menghimpun Siroh Rosulullah S.A.W dari Maghozzi dan As-Siyar karangan Ibnu Ishhaq. Ia telah menyempurnakan dan meringkasnya. Kitan inilah yang sekarang dan yang terkenal dengan Siroh Ibnu Hisyam.
Selanjutnya, lahirlah kitab-kitab Siroh Nabawiyyah. Sebagianya menyajikan secara menyuluruh, tetapi ada pula yang memperhatikan segi-segi tertentu, sseperti Al-Asfahani di dalam kitabnya Dala'il An-Nubuwwah, Tirmidzi di dalam kitabnya Asy-Syama'il dan Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah di dalam kitabnya Zad Al-Ma'ad.
Rahasia Di Pilihnya Jaziroh 'Arobiyyah Sebagai Tempat Kelahiran Dan Pertumbuhan Islam
Sebelum membahas Siroh Rosulullah S.A.W dan berbicara tentang jaziroh 'Arobiyyah, tempat yang di pilih Allah sebagai tempat kelahiran dan pertumbuhannya, terlebih dahulu kita harus menjelaskan hikmah Ilahiyyah yang menentukan bi'tsah Rosulullah S.A.W di bagian dunia ini dan pertumbuhan dakwah Islam di tangan bangsa 'Arob sebelum bangsa lainya.
Untuk menjelaskan hal ini, pertama kita harus mengetahui karakteristik bangsa 'Arob dan tabi'at mereka sebelum Islam, juga menggambarkan letak geografi tempat mereka hidup dan posisinya di antara negara-negara di sekitarnya. Sebaliknya kita juga harus menggambarkan kondisi peradaban dan kebudayaan ummat-ummat lain pada waktu itu, seperti Persia, Romawi, Yunani, dan India.
Kita mulai pertama, menyajikan di sekitar jaziroh 'Arob sebelum Islam.
Pada waktu itu dunia dikuasai oleh dua negara adidaya yaitu Persia dan Romawi, kemudian menyusul India dan Yunani.
Persia adalah ladang subur berbagai khayalan (khurofat) keagamaan dan filosofi yang saling bertentangan. Di antaranya adalah Zoroaster yang di anut oleh kaum penguasa. Di antara falsafah adalah mengutamakan perkawinan seseorang dengan ibunya, anak perempuannya atau saudaranya. Sehinggga Yazdasir 2 yang memerintah pada pertengahan abad kelima Masehi mengawini anak perempuannya. Belum lagi penyimpangan-penyimpangan akhlaq yang beraneka ragam sehingga tidak bisa di sebutkan di sini.
Di Persia juga terdapat ajaran Mazdakia, yang menurut Imam Syahrustani, di dasarkan filsafat lain, yaitu menghalalkan wanita, membolehkan harta dan menjadikan manusia sebagai serikat seperti perserikatan mereka dalam asalah air, api dan rumput. Ajaran ini memperoleh sabutan luas dari kaum pengumbar hawa nafsu.
Sedangkan Romawi telah di kuasai sepenuhnya oleh semengat kolonialisme. Negri ini terlibat pertentangan agama, antara Romawi di satu pihak dan Nasroni di pihak lain. Negri ini mengandalkan kekuatan militer dan abisi kolonialnya dalam melakukan pertualangan (niat) demi mengembangkan agma kristen dan mempermainan sesuai dengan keinginan hawa nafsunya yang serakah.
Negara ini pada waktu yang sama tak kalah bejatnya dari Persia. Kehidupan nista, kebejatan moral dan pemerasan ekonomi telah menyebar ke seluruh penjuru negri, akibat melimoah penghasilan dan penumpukan pajak.
Akan halnya Yunani maka negri ini sedang tenggelam dalam lautan khurofat dan mithos-mithos verbal yang tidak pernah memberikan manfaat.
Demikian pula India, sebagaimana di katakan oleh Ustadz Abul Hasan An-Nadawi, telah di sepakati oleh penulis sejarahnya, bahwa negri ini sedang berada pada puncak kebejatan dari segi agama, akhlaq ataupun sosial. Masa tersebut bermula sejak awal abad keenam Masehi. India bersama negara tetangganya berandil dalam kemerosotan moral dan sosial.
Di samping itu harus di ketahui bahwa ada satu hal yang menjadi sebab utama terjadinya kemerosotan, keguncangan dan kenestapaan pada ummat-ummat tersebut, yaitu peradaban dan kebudayaan yang di dasarkan pada nilai-nilai materialistik semata, tanpa ada nilai-nilai moral yang mengarahkan peradaban dan kebudayaan tersebut kejalan yang benar. Akan halnya peradaban berikut segala implikasinya dan penampilanya, tidak lain hanyalah merupakan sarana dan instrumen. Jika pemegang sarana dan instrumen tidak memiliki pemikiran dan nilai-nilai moral yang benar, maka peradaban yang ada di angan mereka akan berubah menjadi alat kesengsaraan dan kehancurn. Tetapi jika pemegang memiliki pemikiran yang benar, yang hanya bisa di peroleh melalui wahyu Ilahi, maka seluruh nilai peradaban dan kebudayaan akan menjadi sarana yang baik bagi kebudayaan berahagia penuh dengan rahmat di segala bidang.
Sementara itu, di jaziroh 'Arobiyyah hidup dengan tenang, jauh dari bentuk keguncangan tersebut. Mereka tidak memiliki kemewahan dan peradaban Persia yang memungkinkan mereka kreatif dan pandai menciptakan kemerosota-kemerosotan, filsafat keserba bolehan dan kebejatan moral yang di kemas dalam bentuk agama. Mereka juga tidak memiliki kekuatan militer Romawi, yang mendorong mereka melakukan ekspansi kenegara-negara tetangga. Mereka tidak memiliki filosofi dan dialektika Yunani yang menjerat mereka menjadi bangsa mithos dan khurofat.
Karakteristik mereka seperti bahan baku yang belum di olah dengan bahan lain, masih menampakan fitroh kemanusiaan dan kecenderungan yang sehat dan kuat, serta cenderung kepada kemanusiaan yang mulia, sepeti setia, penolong, dermawan, rasa harga diri, dan kesucian.
Hanya saja mereka tidak memiliki ma'rifat (pengetahuan) yang akan mengungkapkan jalan ke arah itu. Karena mereka hidup dalam kegelapan, kebodohan, dan alam fittrohnya yang pertama. Akibatnya mereka sesat jalan, tidak menemukan nilai-nilai kemanusiaantersebut. Kekayaan dengan alasan kedermawanan dan membangkitkan peperangan di antara mereka dengan alasan harga diri dan kepahlawanan.
Kondisi inilah yang di ungkapkan ole Allah dengan dalil ketika mensifati dengan firmannya dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Baqoroh (2) ayat 198-199:
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْ ۗ فَاِذَآ اَفَضْتُمْ مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ ۖ وَاذْكُرُوْهُ كَمَا هَدٰىكُمْ ۚ وَاِنْ كُنْتُمْ مِّنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الضَّاۤلِّيْنَ
Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu. Maka apabila kamu bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, sekalipun sebelumnya kamu benar-benar termasuk orang yang tidak tahu.
ثُمَّ اَفِيْضُوْا مِنْ حَيْثُ اَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ ۗ اِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang banyak bertolak (Arafah) dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Suatu sifat apabila di nisbatkan kepada kondisi ummat-ummat lain pada waktu itu, lebih banyak menunjukan kepada I'tidzar (excuse) dari pada kecaman, celaan, dan hinaan kepada mereka. Ini di karenakan ummat-ummat lain tersebeut melakukan penyimpangan-penyimpangan terbesar dengan bimbingan sorot peradaban, pengetahuan dan kebudayaan. Mereka terjerembab ke dalam kubang kerusakan dengan penuh kesadaran, perencanaan, dan pemikiran.
Di samping itu jaziroh 'Arobiyyah secara geografi terletak di antara ummat-ummat yang sedang di landa pergolakan.
Bila di perhatikan sekarang seperti di katakan Ustadz Muhammad Mubarrok, maka akan di ketahui betapa jaziroh 'Arobiyyah terletak di antara peradaban, Pertama peradaban barat Materialistik yang telah menyajikan suatu bentuk kemanusiaan yang tidak utuh dan Keua peradaban Spiritual penuh dengan khayalan di ujung timur, seperti ummmat-ummat yang hidup di India, China dan sekitarnya.
Jka telah kita ketahui kondisi bangsa 'Arob di jaziroh 'Arob sebelum Islam dan kondisi ummat-ummat lain di sekitarnya maka dengan mudah kita dapat menjelaskan hikmah Ilahiyyah yang telah berkenan menentukan jaziroh 'Arobiyyah sebagai tempat kelahiran Rosulullah S.A.W dan kerosulannya dan mengapa bangsa 'Arob di tunjuk sebagai generasi perintis yang membawa dunia ini agar menyentuh kepada Allah semata.
Jadi bukan seperti di katakan oleh sebagian orang yang karena pemilikan agama bathil dan peradaban palsu, sulit di luruskan dan di arahkan oleh sebab kebanggaan mereka terhadap kerusakan yang mereka lakukan dan anggapan mereka sebagai suatu yang benar. Sedangkan orang-orang yang masih hidup di masa pencarian, mereka tidak akan mengingkari kebodohan dan tidak akan membanggakan peradaban dan kebudayaan yang di milikinya.
Dengan demikian mereka lebih mudah di sembuhkan dan di arahkan. Kami tegaskan bukan hanya ini semata yang menjadi sebab utama, karena analisis seperti ini akan berlaku bagi orang yang kemampuanya terbatas, dan orang yang memiliki potensi.
Analisis seperti tersebut di atas membedakan antara yang mudah dan yang sulit, kemudian di utamakan yang pertama dan di hindari yang kedua, karena ingin menuju jalan kemudahan dan tidak menyukai jalan kesulitan.
Jika Allah meghendaki terbitnya dakwah Islam ini dari suatu tempat, yaitu Persia, Romawi, atau India, niscaya untuk keberhasilan dakwah ini Allah S.W.T, mempesiapkan berbagai sarana di negri tersebut, sebagaimana Dia mempersiapkan sarana di jaziroh 'Arobiyyah. Dan Allah tidak akan pernah kesulitan untuk melakukanya, karen Dia Pencipta segala sesuatu, Pencipta segala sarana termasuk sebab. Firman Allah dalam Al-Qur'anul Karim:
1. Surat An-Nahl (16) ayat 40
اِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ اِذَآ اَرَدْنٰهُ اَنْ نَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
Sesungguhnya firman Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.
2. Surat Yaa siin (36) ayat 82
اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.
3. Surat Al-Baqoroh (2) ayat 117
بَدِيْعُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاِذَا قَضٰٓى اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
(Allah) pencipta langit dan bumi. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.
4. Surat Al-Ghofir/Al-Mu'min (40) ayat 68
هُوَ الَّذِيْ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۚ فَاِذَا قَضٰىٓ اَمْرًا فَاِنَّمَا يَقُوْلُ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
Dialah yang menghidupkan dan mematikan. Maka apabila Dia hendak menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu.
Tetapi hikmah pilihan ini sama dengan hikmah di jadikannya Rosulullah S.A.W seorang ummi, tidak bisa menulis dengan tangan kananya, menurut ishtilah Allah, dan tidak pula membaca, agar manusia tidak ragu terhadap kanabiannya, dan agar mereka tidak memiliki banyak sebab keraguan terhadap dakwahnya. Allah menjelaskan dalam Al-Qur'anul Karim:
Surat Al-A'rof (7) ayat 157
اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهٰىهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤىِٕثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٗٓ ۙاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi (tidak bisa baca tulis) yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka, yang menyuruh mereka berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan yang menghalalkan segala yang baik bagi mereka dan mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, dan membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang beruntung.
Surat Al-Ankabut (29) ayat 48
وَمَا كُنْتَ تَتْلُوْا مِنْ قَبْلِهٖ مِنْ كِتٰبٍ وَّلَا تَخُطُّهٗ بِيَمِيْنِكَ اِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُوْنَ
Dan engkau (Muhammad) tidak pernah membaca sesuatu kitab sebelum (Al-Qur'an) dan engkau tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; sekiranya (engkau pernah membaca dan menulis), niscaya ragu orang-orang yang mengingkarinya.
Adalah termasuk kesempurnaan hikmah Ilahiyyah, jika bi'ah (lingkungan) tempat di utusnya Rosulullah, dijadikan juga sebagai bi'ah ummiyyah (lingkungan yang ummi), bla di bandingkan dengan ummat-ummat lainya yang ada di sekitarnya, yakni tidak terjangkau sama sekali oleh peradaban-peradaban tetangganya. Demikian pula sistem pemikirannya, tidak tersentuh sama sekali oleh filsafah-filsafah membingungkan yang ada di sekitarnya.
Seperti halnya akan timbul keraguan di daa manusia apabila mereka melihat Nabi S.A.W seorang terpelajar dan pandai bergaul dengan kitab-kitab, sejarah ummat-ummat terdahulu dan semua peradaban negara-negara sekitarnya, Dan di khawatirkan pula akan timbul keraguan di dada manusia manakala melihat munculnya dakwah Islamiyyah di antara 2 ummat yang memiliki peradaban dan budaya dan sejarah seperti Persia, Yunani, Romawi. Sebab orang yang ragu dan menolak mungkin akan menuduh dakwah Islam sebagai mata rantai pengalaman budaya dan pemikiran-pemikiran filosof yang akhirnya melahirkan peradaban yang unik dan perundangan yang sempurna.
Al-Qur'an telah menjelaskan hikmah ini dengan ungkapan yang jelas, Firman Allah dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Jumu'ah (62) ayat 2-3:
هُوَ الَّذِيْ بَعَثَ فِى الْاُمِّيّٖنَ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍۙ
Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
وَّاٰخَرِيْنَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوْا بِهِمْۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُۙ
Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
Allah telah menghendaki Rosul-NYA seorang yang ummi dan kaum di mana Rosul ini di utus juga kaum secara mayoritas ummi, agar mu'jizat kenabian dan syari'at Islamiyyah menjadi jelas di jalan pikiran, tidak ada penghamburan antara dakwah Islam dengan dakwah-dakwah manusia yang bermacam-macam. Ini sebagaiman nampak jelas, merupakan rahmat yang besar bagi hamba-NYA.
Selain itu ada pula hikmah-hikmah yang tidak tersembunya bagi orang yang mencarinya, antara lain:
  • Sebagaimana telah kita ketahui Allah menjadikan Baitul Harom sebagai tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman dan rumah pertama kali di bangun bagi manusia untuk beribada dan menegakan syi'ar-syi'ar agama, seperti firman Allah dalam Al-Qur'anul Karim surat Al-Baqoroh (2) ayat 125: 
    وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ
    Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat salat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang iktikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!”
    Allah juga telah menjadikan dakwah bapak para Nabi, Ibrohim A.S, di lembah tersebut, seperti yang di tegaskan Allah di ayat sebelumnya yaitu Al-Qur'anul Karim surat Al-Baqoroh(2) ayat 124:
    وَاِذِ ابْتَلٰٓى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ ۗ قَالَ اِنِّيْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ
    Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, “Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia.” Dia (Ibrahim) berkata, “Dan (juga) dari anak cucuku?” Allah berfirman, “(Benar, tetapi) janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.”
    Maka semua itu merupakan kalaziman dan kesempurnaan, jika lembah yang di berkahi ini juga menjadi tempat lahirnya dakwah Islam yang notabene, adalah millah Ibrohim dan menjadi tempat di utus dan di lahirnya pemungkas para Nabi. Bagamana tidak, sedangkan dia termasuk keturunan Nabi Ibrohim A.S.
      Surat An-Nahl (16) ayat 123
      ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
    Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.”
    Surat Al-Baqoroh (2) ayat 130
    وَمَنْ يَّرْغَبُ عَنْ مِّلَّةِ اِبْرٰهٖمَ اِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهٗ ۗوَلَقَدِ اصْطَفَيْنٰهُ فِى الدُّنْيَا ۚوَاِنَّهٗ فِى الْاٰخِرَةِ لَمِنَ الصّٰلِحِيْنَ
    Dan orang yang membenci agama Ibrahim, hanyalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Dan sungguh, Kami telah memilihnya (Ibrahim) di dunia ini. Dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang saleh.
    Surat Al-Baqoroh (2) ayat 132
    وَوَصّٰى بِهَآ اِبْرٰهٖمُ بَنِيْهِ وَيَعْقُوْبُۗ يٰبَنِيَّ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰى لَكُمُ الدِّيْنَ فَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۗ
    Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”
    Surat Al-Baqoroh (2) ayat 133
    اَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاۤءَ اِذْ حَضَرَ يَعْقُوْبَ الْمَوْتُۙ اِذْ قَالَ لِبَنِيْهِ مَا تَعْبُدُوْنَ مِنْۢ بَعْدِيْۗ قَالُوْا نَعْبُدُ اِلٰهَكَ وَاِلٰهَ اٰبَاۤىِٕكَ اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ اِلٰهًا وَّاحِدًاۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ
    Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Yakub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya) berserah diri kepada-Nya.”
      Surat Al-Baqoroh (2) ayat 135
    وَقَالُوْا كُوْنُوْا هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى تَهْتَدُوْا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ اِبْرٰهٖمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
    Dan mereka berkata, “Jadilah kamu (penganut) Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah, “(Tidak!) Tetapi (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus dan dia tidak termasuk golongan orang yang mempersekutukan Tuhan.”
      Surat Al-Baqoroh (2) ayat 136
    قُوْلُوْٓا اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَمَآ اُنْزِلَ اِلَيْنَا وَمَآ اُنْزِلَ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَمَآ اُوْتِيَ النَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْۚ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْۖ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ
    Katakanlah, “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami, dan kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta kepada apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kami berserah diri kepada-Nya.”
      Surat Ali 'Imron (3) ayat 84
    قُلْ اٰمَنَّا بِاللهِ وَمَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَآ اُنْزِلَ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْۖ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْۖ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ
    Katakanlah (Muhammad), “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.”
      Surat Yusuf (12) ayat 38
    وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ اٰبَاۤءِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَۗ مَا كَانَ لَنَآ اَنْ نُّشْرِكَ بِاللهِ مِنْ شَيْءٍۗ ذٰلِكَ مِنْ فَضْلِ اللهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَشْكُرُوْنَ
    Dan aku mengikuti agama nenek moyangku: Ibrahim, Ishak dan Yakub. Tidak pantas bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (semuanya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.
  • Secara geografis jaziroh 'Arobiyyah sangat kondusif untuk mengemban tugas dakwah seperti ini. Karena jaziroh ini terletak sebagaimana telah kami sebutkan, di bagian tengah ummat-ummat yang ada di sekitarnya. Posisi geografis ini akan menjadikan penyebaran dakwah Islam ke semua bangsa dan negara di sekitarnya berjalan dengan gampang dan lancar. Bila kita perhatikan kembali sejarah dakwah Islam pada permulaan Islam dan pada masa pemerintahan para Kholifah yang terpimpin, niscaya akan mengakui kebenaran hal ini.
  • Sudah menjadi kebijakan Allah untuk menjadikan bahasa 'Arob sebagai bahasa dakwah Islam, dan media langsung untuk menterjemahkan Kalam Allah dan penyampaianya kepada kita. Jika kita kaji karakteristik semua bahasa lalu kita bandingkan antara satu dengan lainnya, niscaya akan kita temukan bahwa bahasa 'Arob banyak memiliki keistimewaan yang tidak di miliki oleh bahasa lainnya. Maka, sudah sepatutnya jika bahasa 'Arob di jadikan bahasa pertama bagi kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia.
  • Allah menjelaskan beberapa hal terkait hal itu dalam firman:                                          Surat Yusuf (12) ayat 2                                                                                                                 اِنَّآاَنْزَلْنٰهُ قُرْاٰنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Qur'an berbahasa Arab, agar kamu mengerti
    Surat Ar-Ro'd (13) ayat 37 
    وَكَذٰلِكَ اَنْزَلْنٰهُ حُكْمًا عَرَبِيًّاۗ وَلَىِٕنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَاۤءَهُمْ بَعْدَمَا جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِۙ مَا لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا وَاقٍ 
    Dan demikianlah Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Sekiranya engkau mengikuti keinginan mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka tidak ada yang melindungi dan yang menolong engkau dari (siksaan) Allah.
Muhammad S.A.W Penutup Para Nabi, Dan Hubungan Dakwahnya Dengan Dakwah-Dakwah Samawiyyah Terdahulu
Muhammad S.A.W adalah penutup para Nabi. Tidak ada Nabi sesudahnya. Ini telah di sepakati oleh kaum Muslimin dan merupakan salah satu aksioma Islam. Sabda Rosulullah S.A.W :
H.R Bukhori No. 3535 H.R Muslim, dari Abi Huroiroh R.A:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى اللهُ عنه – أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صلى اللهُ عليه وسلم – قَالَ « إِنَّ مَثَلِى وَمَثَلَ الأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِى كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ ، إِلاَّ مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ ، فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ ، وَيَقُولُونَ هَلاَّ وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ قَالَ فَأَنَا اللَّبِنَةُ ، وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ »
Dari Abu Huriroh rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan aku dengan Nabi sebelumku ialah seperti seorang lelaki yang membangun sebuah bangunan kemudian ia memperindah dan mempercantik bangunan tersebut kecuali satu tempat batu bata di salah satu sudutnya. Orang-orang ketika itu mengitarinya, mereka kagum dan berkata, “Amboi, jika batu bata ini diletakkan, akulah batu bata itu dan aku adalah penutup para nabi.”
H.R Bukhori No. 3532 H.R Muslim No. 2354, dari Zubair Bin Muth'im:
أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَنَا أَحْمَدُ وَأَنَا الْمَاحِي الَّذِي يُمْحَى بِيَ الْكُفْرُ وَأَنَا الْحَاشِرُ الَّذِي يُحْشَرُ النَّاسُ عَلَى عَقِبِي وَأَنَا الْعَاقِبُ وَالْعَاقِبُ الَّذِي لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ
(Saya memiliki empat nama:) Saya Muhammad (yang terpuji). Saya Ahmad (yang banyak memuji atau dipuji). Saya Al-Mahi (penghapus), dimana dengan perantaraanku Allah menghapus kekufuran. Saya Al-Hasyir (Pengumpul), yang mana manusia nanti akan dikumpulkan dihadapanku. Saya juga bernama Al-‘Aqib (yang belakangan) yaitu yang tak ada Nabi lagi yang datang sesudahku”.
H.R Bukhori No. 4416 (kitab Al-Maghozi), H.R Muslim No. 2404, dari Mush'ab Bin Sa'd:
عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ إِلَى تَبُوكَ وَاسْتَخْلَفَ عَلِيًّا فَقَالَ أَتُخَلِّفُنِي فِي الصِّبْيَانِ وَالنِّسَاءِ قَالَ أَلَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى إِلَّا أَنَّهُ لَيْسَ نَبِيٌّ بَعْدِي
Dari Mush’ab bin Sa’d dari bapaknya, bahwa Rosululah Shollallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Tabuk, dan menjadikan Ali sebagai pengganti beliau Shollallahu ‘alaihi wa sallam (memimpin kota Madinah). Lalu Ali berkata: “Apakah anda menjadikan aku sebagai pengganti(mu) mengurusi anak-anak kecil dan para wanita?”. Rosululah Shollallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Tidakkah engkau ridha jika kedudukanmu dariku sebagaimana kedudukan Harun dari Musa, tetapi sesungguhnya tidak ada nabi setelah aku.”
H.R Bukhori No. 3455 (kitab hadits Al-Anbiyya), H.R Muslim No. 1842, dari Abu Huroiroh:
كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ
Dahulu Bani Israil dipimpin oleh para nabi, setiap seorang nabi wafat, dia diganti oleh nabi yang lain. Dan sesungguhnya tidak ada nabi setelah aku, tetapi akan ada para khalifah, dan jumlah mereka banyak.
H.R. Ahmad III/267,H.R Tirmidzi no: 2272, dan H.R Al-Hakim, dari Anas Bin Malik. Dishohihkan oleh Imam Al-Albani di dalam Irwaul Gholil no:2473 dan Shohih Al-Jami’ush Shoghir no:1631
إِنَّ الرِّسَالَةَ وَالنُّبُوَّةَ قَدِ انْقَطَعَتْ فَلَا رَسُولَ بَعْدِي وَلَا نَبِيَّ قَالَ فَشَقَّ ذَلِكَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ لَكِنِ الْمُبَشِّرَاتُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الْمُبَشِّرَاتُ قَالَ رُؤْيَا الْمُسْلِمِ وَهِيَ جُزْءٌ مِنْ أَجْزَاءِ النُّبُوَّةِ
Sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus, maka tidak ada Rosul dan tidak ada nabi setelah aku. Maka hal itu terasa berat bagi para sahabat. Lalu beliau bersabda: “Kecuali al-mubasysyirat (perkara-perkara yang memberikan berita gembira). Para sahabat bertanya: “Wahai Rosulullah, apakah al-mubasysyirat itu?”, beliau menjawab: “Mimpi seorang muslim, hal itu satu bagian dari bagian-bagian kenabian”.
H.R. Al-Bukhori no. 335, H.R Muslim no. 521, An-Nasai no. 432, dari Jabir Bin Abdullah
وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً
Dan semua nabi (sebelumku) diutus hanya kepada kaumnya, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.
Al-Qur'anul Karim surat Al-Ahzab (33) ayat 40:
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا
Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
Al-Qur'anul Karim surat As-Saba (34) ayat 28:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا كَاۤفَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Al-Qur'anul Karim surat Al-Anbiya (33) ayat 107:
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.
Al-Qur'anul Karim surat Al-A'rof (7) ayat 158:
قُلْ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنِّيْ رَسُوْلُ اللهِ اِلَيْكُمْ جَمِيْعًا ۨالَّذِيْ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ يُحْيٖ وَيُمِيْتُۖ فَاٰمِنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ النَّبِيِّ الْاُمِّيِّ الَّذِيْ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَكَلِمٰتِهٖ وَاتَّبِعُوْهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rosul-Nya, (yaitu) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk.”
Hubungan antara Nabi Muhammad dan dakwah para Nabi terdahulu berjalan atas prinsip ta'kid (penegasan) dan tatmim (penyempurnaan) sebagaimana di sebutkan dalam hadits-hadits di atas.
Dakwah para Nabi di dasarkan pada dua masa. Pertama 'Aqidah, Kedua Syari'at dan akhlaq. 'Aqidah mereka sama, dari Nabi Adam A.S sampai kepada Nai penutup para Nabi (Muhammad S.A.W). Esensi 'aqidah mereka adalah iman kepada Wahdaniyyah Allah. MensucikanNYA dari segala perbuatan dan sifat yang tidak layak lagi bagiNYA. Beriman kepada hari akhir, hisab, neraka, dan syurga. Setiap Nabi mengajak kaumnya untuk mengimani semua perkara tersebut. Masing-masing dari mereka datang sebagai pembenaran atas dakwah sebelumnya. Sebagai kabar gembira akan bi'tsah Nabi sesudahnya. Demikianlah bi'tsah mereka saling sambung menyambung kepada berbagai kaum dan ummat. Semuanya membawa satu haqiqot yang di perintahkan untuk menyampaikan kepada manusia , yaitu dainunah Lillahi wahdah (tunduk patuh kepada Allah semata). Inilah yang di jelaskan Allah dengan firmannya dalam Al-Qur'nul Karim surat Asy-Syuro (42) ayat 13:
شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِۗ اللهُ يَجْتَبِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَاۤءُ وَيَهْدِيْٓ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُۗ
diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).
Tidak mungkin akan terjadi perbedaan 'aqidah di antara dakwah-dakwah para Nabi, karena masalah 'aqidah termasuk ikhbar (pengabaran). Pengabaran tentang sesuatu tidak mungkin akan berbeda antara satu pengabar dengan pengabar lainnya. Jika kita yakini kebenaran khabar yang di bawanya. Tidak mungkin seorang Nabi di utus untuk menyampaikan kepada manusia bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga (Maha Suci Allah dari apa yang mereka katakan). Kemudian di utus Nabi lain yang datang sesudahnya untuk menyampaikan kepada manusia bahwa Allah Maha Esa. Tiada sekutu bagi-NYA. Padahal masing-masing dari kedua Nabi tersebut sangat jujur. Tidak akan pernah berkhianat tentang apa yang di khabarkan.
Dalam masalah syari'at yaitu penetapan hukum yang bertujuan mengatur kehidupan masyarakat dan pribadi, telah terjadi perbedaan menyangkut cara dan jalan antara satu Nabi dengan Nabi lainya. Karena syari'at termasuk dalam kategori Insya bukan khabar, sehingga berbeda dengan masalah 'aqidah. Selain itu perkembangan jaman dan perbedaan ummat dan kaum akan berpengaruh terhadap perkembangan syari'at dan perbedaannya. Karena prinsip penetapan hukum di dasarkan paa tuntunan kemashlahatan manusia di dunia dan akhirot. Di samping bi'tsah setiap Nabi sebelum Rosulullah S.A.W adalah khushush bagi ummat tertentu, bukan untuk semua manusia. Maka hukum-hukum syari'atnya hanya terbatas pada ummat tertentu, sesuai dengan kondisi umat tersebut.
Musa A.S misalnya di utus kepada Bani Isro'il. Sesuai dengan kondisi Bani Isro'il pada waktu itu. Mereka memerlukan syari'at yang ketat yang seluruhnya di dasarkan atas azas  'azimah bukan rukhshoh. Setelah beberapa kurun waktu, di utuslah Nabi Isa A.S, kepada mereka dengan membawa syari'at yang agak longgar, bila di bandingkan dengan syari'at yang di bawa oleh Nabi Musa A.S. Perhatikan firman Allah S.W.T melalui Isa A.S yang di tunjukan kepada Bani Isro'il yaitu dalam Al-Qur'anul Karim surat Ali 'Imron (3) ayat 50:
وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرٰىةِ وَلِاُحِلَّ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِيْ حُرِّمَ عَلَيْكُمْ وَجِئْتُكُمْ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْۗ فَاتَّقُوا اللهَ وَاَطِيْعُوْنِ
Dan sebagai seorang yang membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan agar aku menghalalkan bagi kamu sebagian dari yang telah diharamkan untukmu. Dan aku datang kepadamu membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.
Nabi Isa A.S menjelaskan kepada mereka, bahwa menyangkut masalah-masalah 'aqidah, ia hanya membenarkan apa yang telah tertera di dalam kitab Taurot, menegaskan dan memperbaharui dakwah kepadanya. Tetapi menyangkut masalah syari'at dan hukum halal haram, maka ia telah di tugaskan untuk mengadakan beberapa perubahan dan penyederhanaan , dan menghapuskan sebagian hukum yang pernah memberatkan mereka.
Sesuai dengan ini, maka bi'tsah setiap Rosul membawa 'Aqidah dan Syari'at.
Dalam masalah 'aqidah, tugas setiap Nabi tidak lain hanyalah menegaskan kembali (ta'lid) 'aqidah yang sama yang pernah di bawa oleh para Rosul sebelumnya, tanpa perubahan atau perbedaan sama sekali.
Dalam masalah syari'at, maka syari'at setiap Rosul menghapuskan syari'at sebelumnya, kecuali hal-hal yang di tegaskan oleh syari'at yang datang kemudian, atau di diamkannya. Ini sesuai dengan madzhab orang yang mengatakan "Syari'at sebelum kita adalah syari'at bagi kita (juga) selama tidak ada (nash) yang dapat menghapusnya.
Dari uraian di atas, jelas tidak ada apa yang di sebut orang dengan Adyan Samawiyyah (agama-agama langit). Yang ada adalah Syari'at-syari'at Samawiyyah (langit), di mana setiap syari'at yang baru menghapuskan syari'at sebelumnya, sampai datang syari'at terakhir yang di bawa oleh penutup para Nabi dan Rosul.
Ad-dinul Haq hanya satu, Islam. Semua Nabi berdakwah kepadanya, dan memerintahkan manusia untuk tunduk (dainunah) kepadanya, sejak Nabi Adam A.S sampai Nabi Muhammad S.A.W. Allah menegaskan di beberapa firmanya dalam Al-Quranul karim di antaranya surat Al-Baqoroh (2) ayat 130:
وَمَنْ يَّرْغَبُ عَنْ مِّلَّةِ اِبْرٰهٖمَ اِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهٗ ۗوَلَقَدِ اصْطَفَيْنٰهُ فِى الدُّنْيَا ۚوَاِنَّهٗ فِى الْاٰخِرَةِ لَمِنَ الصّٰلِحِيْنَ
Dan orang yang membenci agama Ibrahim, hanyalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Dan sungguh, Kami telah memilihnya (Ibrahim) di dunia ini. Dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang saleh.
Surat Al-Baqoroh (2) ayat 131:
اِذْ قَالَ لَهٗ رَبُّهٗٓ اَسْلِمْۙ قَالَ اَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), “Berserahdirilah!” Dia menjawab, “Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.”
Surat Al-Baqoroh (2) ayat 208:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةً ۖوَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ
Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.
Surat Ali 'Imron (3) ayat 19:
اِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ الْاِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًاۢ بَيْنَهُمْ ۗوَمَنْ يَّكْفُرْ بِاٰيٰتِ اللهِ فَاِنَّ اللهَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ
Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.
Surat Ali 'Imron (3) ayat 67:
مَاكَانَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَانِيًّا وَّلٰكِنْ كَانَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, Muslim dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik.
Surat Ali 'Imron (3) ayat 83:
اَفَغَيْرَ دِيْنِ اللهِ يَبْغُوْنَ وَلَهٗ ٓ اَسْلَمَ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ طَوْعًا وَّكَرْهًا وَّاِلَيْهِ يُرْجَعُوْنَ
Maka mengapa mereka mencari agama yang lain selain agama Allah, padahal apa yang di langit dan di bumi berserah diri kepada-Nya, (baik) dengan suka maupun terpaksa, dan hanya kepada-Nya mereka dikembalikan?
Surat Ali 'Imron (3) ayat 84:
قُلْ اٰمَنَّا بِاللهِ وَمَآ اُنْزِلَ عَلَيْنَا وَمَآ اُنْزِلَ عَلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ وَمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى وَعِيْسٰى وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ رَّبِّهِمْۖ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْۖ وَنَحْنُ لَهٗ مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri.”
Surat Ali 'Imron (3) ayat 85:
وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِسْلَامِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُۚ وَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ
Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.
Surat Ali 'Imron (3) ayat 95:
قُلْ صَدَقَ اللهُ ۗ فَاتَّبِعُوْا مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Benarlah (segala yang difirmankan) Allah.” Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia tidaklah termasuk orang musyrik.
Surat An-Nisa (4) ayat 125:
وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَاتَّخَذَ اللهُ اِبْرٰهِيْمَ خَلِيْلًا
Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan(-Nya).
Surat Al-Maidah (5) ayat 3:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيْرِ وَمَآ اُهِلَّ لِغَيْرِ اللهِ بِهٖ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوْذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيْحَةُ وَمَآ اَكَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْۗ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَاَنْ تَسْتَقْسِمُوْا بِالْاَزْلَامِۗ ذٰلِكُمْ فِسْقٌۗ اَلْيَوْمَ يَىِٕسَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ دِيْنِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِۗ اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍۙ فَاِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas (nama) Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih. Dan (diharamkan pula) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan pula) mengundi nasib dengan azlam (anak panah), (karena) itu suatu perbuatan fasik. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barangsiapa terpaksa karena lapar, bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Surat Al-An'am (6) ayat 161:
قُلْ اِنَّنِيْ هَدٰىنِيْ رَبِّيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ەۚ دِيْنًا قِيَمًا مِّلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.”
Surat An-Nahl (16) ayat 123:
ثُمَّ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ اَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًا ۗوَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang musyrik.”

0 comments:

Posting Komentar